MENULIS BERITA
MEMBERI RUH PADA BERITA
Tugas seorang penulis adalah membuat sesuatu informasi yang dikumpulkan dan dilaporkan menjadi jelas bagi pembaca. Ketidakmampuan menekankan kejelasan adalah kegagalan seorang penulis.
Dan karena informasi dan gagasan seringkali beku dan tanpa jiwa, menjadi tugas seorang penulis pula untuk mencairkan, mengemas, dan menyajikan informasi itu menjadi sajian penuh vitalitas (vogorous) serta elok (graceful) sehingga mampu menggaet dan memelihara minat pembaca untuk menyerap seluruh informasi yang disampaikan.
ELEMEN KEJELASAN
Singkat
Tulisan yang jelas umumnya bukan tulisan yang panjang lebar, melainkan justru ringkas dan terfokus. Ingat Hemingway? ''Less is more!''
Tulisan yang ringkas memberi kesan tangkas dan penuh vitalitas. Tanpa kata mubazir dalam kalimatnya dan tanpa kalimat mubazir dalam alenianya. Tulisan yang ringkas tak ubahnya seperti lukisan yang tegas (tanpa garis yang tak perlu) atau mesin yang efektif (tanpa suku cadang yang tak berfungsi).
Tulisan yang jelas dimulai dari pembuatan kalimat yang sederhana, ringkas dan tepat makna. Kuncinya: baca laporan dan amati sesuatu sejelas-jelasnya kemudian ceritakan kembali secara sederhana. Dan pilihlah satu angle:
1. Dengan cermat memilih angle cerita sehingga penulis dengan mudah bisa mengelola bahan yang diperlukan untuk mengutarakan cerita itu.
2. Pegang teguhlah angle cerita itu dengan menghapuskan bagian yang tidak berhubungan langsung dengan angle-nya atau pun tidak membantu mencapai sasaran.
Langsung, Tepat Sasaran
Tulislah ringkas menuju pengertian yang dimaksud. Pilih kata/kalimat yang spesifik untuk mewakili pengertian yang mengena (tanpa memberi peluang pada banyak interpretasi). Meluruskan apa saja yang berliku-liku. Menggergaji yang bergerigi. Berperang melawan kekaburan dan segala sesuatu yang mendua. Statemen yang abstrak adalah racun maut bagi seorang penulis.
Organisasi
Mulailah sebuah tulisan secara kuat, untuk memikat pembaca memasukinya. (Lihat bagian lain tentang lead). Jika mungkin, gunakan gaya bahasa naratif -- gaya seorang pendongeng yang piawai -- sebagai pendekatan dasar. Selesai menuliskan sebuah paragraf, pikirkan apa yang pembaca ingin ketahui pada alinea berikutnya; dan buatlah transisi serta keterkaitan antar alenia secara mulus. Cobalah untuk selalu menjaga konsistensi tema dalam keseluruhan cerita. Dan seperti dibuka dengan kuat, tutup juga cerita dengan tegas, tanpa membiarkan kejanggalan dan ending yang melambai.
Spesifik
Bagian-bagian yang rumit pecahlah dalam serpihan yang mudah dicerna. Gunakan contoh: seorang untuk mewakili kelompoknya. Dengan memberikan pengkhususan, seringkali juga menghadirkan suasana dramatis dan hidup. (''Kematian 10.000 orang adalah statistik, tapi kematian satu orang adalah tragedi,'' kata Joseph Stalin).
Paralel
Jika Anda menulis sebuah topik yang padat, gambarkan melalui ungkapan yang mudah dipahami pembaca. Strategi militer misalnya dapat diterangkan melalui formasi pertandingan olahraga, rencana keuangan perusahaan dapat digambarkan melalui rencana anggaran keluarga.
APA ITU RUH CERITA?
Manusia
Setiap fotografer tahu bahwa gambar yang tidak menyertakan unsur kehidupan seperti manusia hanya akan berakhir nasibnya di keranjang sampah. Begitu pula dengan tulisan.
Pembaca suka membaca tentang manusia lainnya. Mereka kurang berminat pada isu dan gagasan ketimbang pada pribadi-pribadi. Jika kita bisa menampilkan sebuah wajah pada kisah rumit yang jarang diikuti pembaca, mereka akan terpikat membacanya dan memperoleh informasi.
Tempat
Pembaca menyukai sense of place. Kita bisa membuat tulisan lebih hidup jika kita bisa menyusupkan sense of place yang kuat. Misalnya: seperti apa lokasi tempat terjadinya pembunuhan itu, bagaimana suasana di balik panggung pertunjukan?
Indera
Kita harus berupaya untuk menyentuh indera pembaca. Membuat mereka melihat cerita dalam detil visual yang kuat, dan juga -- dalam kontek yang tepat -- membuat mereka mendengar, meraba, merasakan, membaui dan mengalami.
Irama
Tulisan yang monoton bisa dibantu dengan perubahan irama di dalam teks. Anekdot, kutipan, sebuah dialog pendek atau sebuah deskripsi dapat mengubah irama di aman pembaca bisa terikat sepanjang cerita dan membuat tulisan itu lebih hidup.
Warna dan Mood
Kamera televisi dapat menampilkan pemandangan yang sesungguhnya, dalam warna dan detil. Penulis tidak dapat menyajikan pemandangan dengan mudah, sehingga mereka harus berusaha keras untuk melukis dalam pikiran pembaca. Warna meliputi: citarasa, suara, bau, sentuhan dan rasa. Dan tentu saja sesuatu yang dapat dilihat: gerakan usapan, detil pakaian, rupa, perasaan. Warna bukan hanya sekedar kata sifat tetapi merupakan totalitas dari sebuah pemandangan.
Dalam menggambarkan warna, berarti Anda juga menceritakan tentang suasana (mood). Bahagia? Penuh emosi dan ketegangan? Sering hal semacam ini memberikan ketajaman perasaan terhadap cerita ketimbang bagian lain yang Anda tulis.
Anekdot
Anekdot adalah sebuah kepingan kisah singkat antara satu hingga lima alenia -- ''cerita dalam cerita''. Anekdot umumnya menggunakan seluruh teknik dasar penulisan fiksi -- narasi, karakterisasi, dialog, suasana -- untuk mengajak pembaca melihat cerita secara on the spot.
Anekdot sering dipandang sebagai ''permata'' dalam cerita. Penulis yang piawai akan menaburkan permata itu di seluruh bagian cerita, bukan mengonggokkannya di satu tempat.
Humor
Humor adalah bentuk ekspresi yang paling personal. Berilah pembaca sebuah senyuman, dan mereka akan menjadi sahabat Anda sepanjang hari. Dan buatlah mereka menanti tulisan Anda esok harinya. Tapi hati-hati dengan humor yang tak bercita-rasa.
Panjang-pendek
Makin pendek cerita makin baik. Kisah akan lebih hidup jika awalnya berdekatan dengan akhir (klimaks), sedekat mungkin. Alenia dan kalimat harus bervariasi dalam panjang. Letakkan kalimat dan alenia pendek pada titik kejelasan terpekat atau tekanan terbesar.
Kutipan
Kutipan dalam tulisan berita memberikan otoritas. Siapa yang mengatakannya? Seberapa dekat keterlibatannya dengan sesuatu peristiwa dan masalah? Apakah kata-katanya patut didengar? Kutipan juga memberikan vitalitas karena membiarkan pembaca mendengar suara lain selain penuturan si penulis.
Dialog
Perangkat ini jarang digunakan dalam koran atau majalah berita. Tapi, bisa menjadi wahana yang efektif untuk menghidupkan cerita. Dalam meliput sebuah sidang pengadilan, misalnya, atau mendiskusikan permainan dengan para atlet olahraga tertentu, kita bisa menghidupkan cerita dengan membiarkan pembaca mendengarkan para partisipan berbicara satu sama lain.
Sudut Pandang
Kita bisa membuat sebuah cerita biasa menjadi hidup dengan mengubah sudut pandang. Cobalah untuk melihat inflasi misalnya, dari sudut pandang seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari harus mengatur anggaran keluarga.
Identifikasi
Sebuah tulisan akan lebih hidup jika pembaca merasa dilibatkan dalam cerita dan membuat mereka mengerti mengapa sebuah masalah bermanfaat untuk mereka ketahui. Secara insidental, pembaca paling mudah mengidentifikasikan diri jika cerita ditulis dalam bentuk orang ketiga -- cara kebanyakan fiksi ditulis.
Bertutur
Tulisan yang hidup memiliki irama dan nada berbincang yang baik. Memiliki suara. Kita bisa menghidupkan cerita yang membosankan dengan menulis sesuatu seperti kita sedang membicarakan sesuatu kepada seorang pembaca -- dengan bahasa dan ungkapan keseharian yang kita pakai untuk berbicara.
Kata kerja
Kata kerja adalah mesin yang mendorong berjalannya sebuah cerita. Tulisan yang buruk bisa dihidupkan dengan mengaktifkan kata kerja pasif, menyederhanakan kata kerja kompleks, dan memperkuat kata kerja lembek. Kita harus senantiasa merasa gagal ketika menggunakan adverb atau kata sifat, ketika tak bisa menemukan kata kerja yang benar atau kata benda yang benar. ''Kata sifat adalah musuh bebuyutan kata benda,'' kata pujangga Prancis Voltaire.
JANGAN PUNYA BELAS KASIHAN
Untuk menghindari berpanjang lebar, penulis harus mempersoalkan setiap bagian materi yang dipakai, sebelum dan sesudah tulisan dikerjakan.
Lihat pada laporan yang dibuat reporter maupun bahan yang Anda kumpulkan sendiri. Periksa setiap potong informasi, untuk mengetahui apakah itu cukup relevan, cukup punya hubungan yang jelas, dengan pokok persoalan. Bila tidak relevan atau tidak membantu Anda mencapai sasaran pokok, yaitu bercerita secara efektif, singkirkan atau coret saja, sehingga nanti tidak akan mengganggu. Jangan punya belas kasihan: bila materi tidak relevan, buang!
Setelah Anda menulis, perhatikan setiap blok materi yang Anda pakai. Apakah masih ada hubungan yang jelas dengan fokus cerita? Kalaupun relevan, apakah ia menambahkan sesuatu yang berharga dalam usaha Anda bercerita? Bila tidak, erase saja karena hal itu hanya akan mengurangi efektifitas penulisan Anda.
TULISAN DESKRIPTIF VS TELEVISI
Dalam beberapa hal, televisi menang terhadap media cetak karena ia bisa menggambarkan bentuk fisik orang atau sesuatu barang dengan jelas di layar kaca. Pirsawan bisa menangkap dan menilai tokoh di TV, sedangkan pembaca koran harus mempunyai gambaran dari kata-kata yang tercetak (atau lewat potret kalau ada), yang bisa menunjukkan tokoh dalam cerita.
Tapi, dalam beberapa hal, penulis yang baik bisa mengubah kelemahan media cetak ini menjadi kemenangan. Yakni, dengan penulisan deskriptif. Gambaran yang ditangkap kamera hanya dangkal dan satu dimensi. Kelemahan TV adalah bahwa ia sangat terikat waktu yang sangat berharga, sehingga reporter TV jarang bisa memperoleh gambaran yang mendalam. Dan kalaupun waktu cukup tersedia untuk film dokumenter, katakanlah 1/2 jam, kehadiran kamera TV akan mengurangi suasana yang wajar dan realistis.
Kamera TV bisa menangkap gambaran yang baik pada feature yang menampilkan wajah orang, tapi penulis yang trampil bisa membuat feature lebih menarik dan memberikan gambaran sesungguhnya tentang tokoh masyarakat pada saat ia tidak disorot lampu TV. Yang lebih penting, penulis feature bisa memberikan gambaran tentang tabiat, gaya, lewat pengamatan yang terlatih baik, dan menekankan karakteristik orang, yang menyebabkan kita memperoleh pandangan ke dalam watak dan personalitas tokohnya.
Penulis feature tidak hanya memberikan pembacanya gambaran satu dimensi, tapi keseluruhan personalitas dan juga citra seseorang tokoh. Atau, bila menyangkut ''barang'', misalnya gambaran setelah ada musibah atau massa yang bersuka-ria, penulis bisa menampilkan mood (suasana).
Halim, sekarang bekerja di smk nu darul hikam sebagai tenaga pengajar. masih suka menulis dan mengotak-atik komputer. salam kenal yaaa
Thursday, April 22, 2010
Friday, January 15, 2010
PORNOGRAFI
PORNOGRAFI
DI LAYAR KACA
Kekacuan dunia pertelevisian yang mempertontonkan hingar bingar dunia pornografi telah mengkontaminasi proses keremajaan siswa, pelajar tak halnya korban kontaminasi tersebut, tragis dan ironis memang, mengabaikan proses belajar disekolah tak jarang ditingalkan demi mata acara televisi tersebut, hinga sebua atanan sosial budaya timur kita telah dirusak. Yang aneh lagi tak ada
Proses Tayangan Pornografi
Muncul dugaan di benak kita khusunya peminat acara telivisi, banyaknya film Indonesia, hanya sebagai trend zaman hegomia kita, dan makin terlihatnya gaya hidup metropolisme. Tayangan pada layar kaca memang begitu banyak mewarnai hiasan layar kaca, di tengah malam menemani para penonton setianya, bersama dengan film-film barat lainnya, membuat peridustrian televisi dan film mempunyai kaitan yang begitu erat.
Ketereratan film seronok dengan televisi, memang mempunyai sejarah menarik. Pada awalnya telivisi mengambil film tersebut, didorong biaya pengambilan film tersebut memang sedemikian murah. Sedangkan di pasaran bioskop, film-fim tersebut dinilai kurang laku. Akhirnya proses demikanlah yang memacuh proses fonemena marakanya pornografi di layar kaca.
Dugaan baru, munculnya peridustrian perfilman yang berani menampilkan adegan seronok, baru dimulai pada dekade tahun-tahun ini, merupakan hal yang keliru. Film-film jauh sebelumnya sudah ada sejak tahun delapan puluhan. Ketatnya dalam meraih konsumen film, pada zaman tersebut memaksa para industriawan perfilman kita, lebih mengandalkan kemenarikan film tersebut, khusunya adegan-adegan yang panas, bukan lagi kualitas jalan ceritanya. Inovasinya, bagaimana film ini laku dan menarik ?
Biasanya film tersebut banyak dibintangi pemain-pemain, yang berani melakukan adegan-adegan ala sex dan memancing syahwat alias hot. Misalnya bintang kenamaan Serli Marselina, artis Bom Sex kita dahulu, Ineke Khoshorawati, dan masih banyak lagi yang lainya. Begitulah sejarah perfilman kita pada era delapan puluhan sampai sembilan puluhan. Hingga film tersebut sudah tidak laku di bioskop-bioskop kota.
Pada dekade tahun 60 dan 80, media telivisi hanya satu yaitu hanya Telivisi Republik Indonesia ( TVRI). Pada waktu dekade tersebut kita nampaknya harus bangga dengan TVRI. Karena muatannya hiburan, pendidikan dan informasi, masih begitu kental. Keberadaan telivisi sampai batas itu kurang begitu berpengaruh pada prilaku masyarakat pada umumnya. Hingga pada awal tahun 90 sampai tahun 2000. Telivisi banyak bermunculan, hingga menimbulkan persaingan ketat seperti persaingan film-film bombastis seperti itu.
Keberadaan demikian, ternyata membuat para instansi pertelivisian, akhirnya lebih menonjolkan gaya komersialisasi terhadap iklan, dan menonjolkan paparan yang kurang mendidik. Seperti apa yang pernah dijelaskan oleh ketua LSI (Lembaga Sensor Film Indonesia ), yang dikutip dari wawancara eksklusif pada tayangan program “Topik Minggu Ini” di SCTV.
Keberanian menayangkan film-film panas, masih berlangsung hingga sekarang, dan merambah juga pada telivisi lainnya. Belum lagi distribusi film asing. Begitu banyak film barat-barat, memperparah tayangan-tayangan yang kontroversial dengan budaya “Ketimuran Indonesia”. Hal ini menjadi incaran para penggila acara ini, makin terpukau akan hal ini.
Menayangkan program berbau pornografi juga bukan film saja. Banyak juga acara miniseri, infotaimen dan cerita lainya, mewarnai pertelevisian kita. Sebut saja tayangan Komedi Tengah Malam di Lativi, Nah Ini Dia di SCTV, Fenomena di TransTV, dan masih banyak lagi. Sungguh sangat kita sayangkan. Pantas jika para ulama dan LSM-LSM mengecam akan hal ini, sekali lagi para generasi yang akan menjadi sebuah korban tayangan telivisi yang kurang mendidik ini.
Hal ini ternyata kurang mendapat perhatian khusus dari pemerintah, terlebih lagi pada Lembaga kita yaitu LSI. Nampaknya LSI kita tidak mempunyai kekuatan, untuk lebih mempertajam gunting sensornya. Sehingga acara-acara itu sudah terbilang menjamur dan menjadi komoditi yang wajib terlayani oleh penggilanya, khusnya para remaja dibawah umur.
Bila sejenak kita lebih melihat situasi tayangan pertelevisian Indonesia, tayangan pornografi bukan saja ada pada tengah malam. Namun kali ini juga sudah tak segan-segan telah ditayangan di setiap sela-selah waktu. Buktinya adalah Sinetron, film komedi, dan serial televisi lain-lainnya. Tak sampai dengan itu saja, tayangan panggung musik pun sering mengumbar sensualitas para biduannya.
Makin gencarnya tontonan seperti di atas terlebih-lebih lagi adalah sinetron, benar adanya penuh muatan tontonan pornogrtafi. Simbul adat ketimuran kita telah lebur, bersama wacana yang dicontohkan pada kehidupan dunia maya ini (miniatur). Terus menggiring kita pada arah sebuah bentuk peniruan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Walaupun butuh proses yang panjang, kenyataannya kita telah mencotoh dan mempraktekan hal-hal yang ada dilayar televisi. Hal ini sangat berbahaya, bila akhlak sudah tercampur akan nilai wacanah pertelevisian tersebut.
Buktinya, dalam hal pakaian, prilaku ataupun pergaulan yang makin bebas. Kini sudah begitu banyak terlihat, kalangan insan muda di sekolah telah begitu kongkrit memprakterkan gaya pergaulan artis pujaannya di layar kaca. Tak hanya itu saja, pun berpacaran. Di usia sedini tersebut berpacaran ala sinetron pertelevisian, gencar dilakukan, demi meniru pujaan TV dan dianggap penggemar tulen.
Dalam hal berpakaian juga tak luput dari indikasi tayangan. Berbusana yang kurang seragam waktu disekolah, sering diperlihatkan. Fungsi pakaian muslim beruba menjadi area penunjukan seksualitas. Pakaian seragam ala metropolis tak jarang dijumpa, belum lagi pada busana yang dilkenakan diluar sekolah. Inilah trik insan pertelevisian, yang sering menayangkan kepada khlayak pemirsanya, dengan satu tujuan komerialiasiasi iklan.
Terkontaminasinya Tatanan Prilaku Remaja
Berpengaruhnya dominisi acara telivisi pada tatanan berprilaku, nampaknya diubah menjadi komiditi yang sangat menguntungkan. Ironisnya komoditi tersebut, dijawab dengan tayangan yang kurang mendididik, khusunya tayangan program kental dan sarat akan muatan pornografi. Inilah wacana televesi kita yang begitu mengharukan dan berubah terindikasi oleh persaingan yang mulai berubah, dari tayangan yang mendidik, menjadi tayangan perusak tatanan generasi kita.
Pengaruh tayangan telivisi sampai saat ini menjadi penyulut utama, mengapa para generasi mudah melupakan eksistensi norma-norma luhur bangsa Indonesia yang agamis. Pengonsumsian dan klasifikasilah yang juga berperan. Bukan hal yang tidak mungkin, kalau prosesi pendidikan senyatanya lebih sulit diterima oleh memori otak pelajar, daripada nonton film. Convious pernah bertutur, “Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat dan apa yang saya kerjakan saya faham”. Ini tentulah sangat mendukung prosesi pengendapan informasi. Terutama dari film, yang sangat mendukung proses audio fisual (dilihat dan didengar), sedangkan prosesi pendidikan, selama ini masih sering berkutat pada proses mendengar saja. Waktu pun menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Pasalnya durasi pendidikan, dengan durasi melototi film, sangat jelas tidak seimbang.
Sangat ironis. Pengendapan pun dialamai oleh oleh konsumen di bawah umur, senyata juga direalisasi oleh mereka. Yang terjadi, serabut sensorik, telah dikuasi oleh acting-acting porno, fulgar dan tidak mendidik pada pola kemajuan akhlak. Malah menjerumuskan pada pola tindakan seksual, kian bermotif.
Dalam dunia pendidikan, variety film juga ikut mengambil andil besar. Banyak sekali tingkah laku pelajar sekolah, yang juga ikut-ikutan, pada pelakonan film.
Berpakaian dan asesoris menjadi ajang yang layang pandang. Cara dan model pakaian, yang diadopsi dari para centre society, menggema keras yang menggesek proyeksi tata tertib sekolah. Maka banyak sekali pelanggaran harus ditampakkan disana-sini, yang kian menambah komposisi, pelanggaran di dunia pendidikan.
Sehingga komplek sekali, buka’-buka’an aurat para pemuda usia sekolah. Meski dilakukan secara sederhana. Pacaran pun hal yang sangat disoroti di kursi sekolah. Pacaran bebas, yang memudarkan nilai agama, yang kerap terjadi, ditengarai oleh kian liberalnya dunia film, yang menyaksikan film-film ala seks.
Perilaku, pun tidak kalah ketinggalan. Maka pantas kalau Drs. Syamsul Hadi, mengatakan bahwa siswa/siswi lebih patuh pada ajaran yang disampaikan lewat TV, daripada pituduh Bapak/Ibu guru. Padahal, guru-guru merupakan orang tua di sekolah, yang berarti digugu dan ditiru, pituduh dan nasehatnya, ucap pak Syamsul sembari kesal.
Melihat perjalan sang remaja kita, memang penuh dengan pengaruh-pengaruh film. Bergaul sampai sat ini sudah kelewat batas. Wacana pendidikan agamapun luntur dan ditanggalkan begitu saja dalam masyarakat metropolis, kemudian merambah pada daerah pedesaan. Pemuda desa pun mengamini dan mengesahkan hal itu tanpa disaring lebih dahulu. Mendiskripkan tayangan di televisi sah-sah saja walaupun masih belum begitu terlihat. Namun secara terselebung mereka (pelajar) mempunyai benak seperti itu, disadari atau tidak.
Drs. H Moh Amin AZA, guru agama kita, pun pernah mengatakan saat menyikapi permasalahan tersebut di selah waktu mengajarnya. Beliau menjelaskan, media televisi sangat berpengaruh pada kehidupan kalangan remaja atau pelajar, terutama pada prilaku, berbusana, pergaulan dan gaya hidup, yang mencerminkan kebebasan bergaul dalam tanda kutip berpacaran.
Himbauan itu, bukanlah bentuk aturan. Lebih dari itu, sebagai pengingat ternyata secara tidak langsung tontonan tersebut telah mengendalikan kita. Rasanya kurang hari-hari kita tanpa melihat tayangan dalam pertelevisian, hingga melupakan proses belajar. Mengapa demikian ?
Berputarnya acara film di layar kaca selama durasi waktu tertentu, merupakan sistem pengajaran yang sangat efektif dan efesien. Pasalnya, sistem rancang demikian, menjadi sasaran pengajaran yang selama ini sedang gencar-gencarnya dilakukukan oleh pemerintah Indonesia, yakni Kompetensi.
Hasil pun tidak akan jauh berbeda dengan sasaran yang diharapkan dengan pengajaran yang dilakukan di kursi pendidikan formal. Hasil itu berupa pengendapan hasil penginderaan pada layar kaca, pada masing-masing memori, dengan kadar yang lebih mempuni, ketimbang hanya dari cerita dari mulut ke mulut.
Peran Sekolah
Otak yang masih kental akan pengaruh tayangan TV nampak terlihat jelas. Namun sampai saat ini adakah penanganan, untuk mengurangi tayangan pornografi di layar televisi, setidaknya mampu menghindarkan para remaja sekolah agar tidak terkontaminasi tayangan tersebut ???
Sekolah yang menjadi naungan menimbah ilmu, nampaknya harus mendominisi. Katakanlah menjadi resep pengurang penyakit ini dengan memberikan doktrin-doktrin untuk menghindari hal tersebut. Namun peranan sekolah nampaknya kurang mampu. Akan hal ini, agensi-agensi guru nampaknya diacuhkan begitu saja, karena disana sini masih banyak terjadi wabah fenomena seperti ini
Kurangya jangkuan sekolah ke wilayah gerak siswa dilingkup masyarakat umum, menjadi kendala utama. Kurangnya koordinasi sekolah dengan para wali siswa, menjadi batu sandungan utama. Orang tua kurang dinilai sekolah untuk memberikan atau mencegah ketimpangan ini.
Akar permasalahan ini harus cepat dihilangkan, sebelum bangsa kita menumpuk generasi yang rusak. Sekolah dan peran orang tua harus lebih dioptimalkan, jika sekolah mampu memberikan tatanan moral pada garis teretorial sekolah, orang tua juga harus menopang dari segi lingkup umum. “Era seperti ini tak halnya kita adalah sebagi lambang supermasi kebudayaan kita, maka jika kita mengasumsikan budaya pornografi sebagai libelarisme, maka keterpurukan ini adalah sebagai kekeliruan yang paling fatal”, ujar Gali (nama samaran), anak kelas 2 Ak 1 pada kami, saat papar pendapat dengan salah satu temannya.
Menumpuknya batu pornografi seharusnya dihentikan, setelah sekolah sudah berusaha dengan orang tua kini saatnya pemarintah lewat LSI harus cepat mengatasinya dengan memberantas tontonan tersebut.
DI LAYAR KACA
Kekacuan dunia pertelevisian yang mempertontonkan hingar bingar dunia pornografi telah mengkontaminasi proses keremajaan siswa, pelajar tak halnya korban kontaminasi tersebut, tragis dan ironis memang, mengabaikan proses belajar disekolah tak jarang ditingalkan demi mata acara televisi tersebut, hinga sebua atanan sosial budaya timur kita telah dirusak. Yang aneh lagi tak ada
Proses Tayangan Pornografi
Muncul dugaan di benak kita khusunya peminat acara telivisi, banyaknya film Indonesia, hanya sebagai trend zaman hegomia kita, dan makin terlihatnya gaya hidup metropolisme. Tayangan pada layar kaca memang begitu banyak mewarnai hiasan layar kaca, di tengah malam menemani para penonton setianya, bersama dengan film-film barat lainnya, membuat peridustrian televisi dan film mempunyai kaitan yang begitu erat.
Ketereratan film seronok dengan televisi, memang mempunyai sejarah menarik. Pada awalnya telivisi mengambil film tersebut, didorong biaya pengambilan film tersebut memang sedemikian murah. Sedangkan di pasaran bioskop, film-fim tersebut dinilai kurang laku. Akhirnya proses demikanlah yang memacuh proses fonemena marakanya pornografi di layar kaca.
Dugaan baru, munculnya peridustrian perfilman yang berani menampilkan adegan seronok, baru dimulai pada dekade tahun-tahun ini, merupakan hal yang keliru. Film-film jauh sebelumnya sudah ada sejak tahun delapan puluhan. Ketatnya dalam meraih konsumen film, pada zaman tersebut memaksa para industriawan perfilman kita, lebih mengandalkan kemenarikan film tersebut, khusunya adegan-adegan yang panas, bukan lagi kualitas jalan ceritanya. Inovasinya, bagaimana film ini laku dan menarik ?
Biasanya film tersebut banyak dibintangi pemain-pemain, yang berani melakukan adegan-adegan ala sex dan memancing syahwat alias hot. Misalnya bintang kenamaan Serli Marselina, artis Bom Sex kita dahulu, Ineke Khoshorawati, dan masih banyak lagi yang lainya. Begitulah sejarah perfilman kita pada era delapan puluhan sampai sembilan puluhan. Hingga film tersebut sudah tidak laku di bioskop-bioskop kota.
Pada dekade tahun 60 dan 80, media telivisi hanya satu yaitu hanya Telivisi Republik Indonesia ( TVRI). Pada waktu dekade tersebut kita nampaknya harus bangga dengan TVRI. Karena muatannya hiburan, pendidikan dan informasi, masih begitu kental. Keberadaan telivisi sampai batas itu kurang begitu berpengaruh pada prilaku masyarakat pada umumnya. Hingga pada awal tahun 90 sampai tahun 2000. Telivisi banyak bermunculan, hingga menimbulkan persaingan ketat seperti persaingan film-film bombastis seperti itu.
Keberadaan demikian, ternyata membuat para instansi pertelivisian, akhirnya lebih menonjolkan gaya komersialisasi terhadap iklan, dan menonjolkan paparan yang kurang mendidik. Seperti apa yang pernah dijelaskan oleh ketua LSI (Lembaga Sensor Film Indonesia ), yang dikutip dari wawancara eksklusif pada tayangan program “Topik Minggu Ini” di SCTV.
Keberanian menayangkan film-film panas, masih berlangsung hingga sekarang, dan merambah juga pada telivisi lainnya. Belum lagi distribusi film asing. Begitu banyak film barat-barat, memperparah tayangan-tayangan yang kontroversial dengan budaya “Ketimuran Indonesia”. Hal ini menjadi incaran para penggila acara ini, makin terpukau akan hal ini.
Menayangkan program berbau pornografi juga bukan film saja. Banyak juga acara miniseri, infotaimen dan cerita lainya, mewarnai pertelevisian kita. Sebut saja tayangan Komedi Tengah Malam di Lativi, Nah Ini Dia di SCTV, Fenomena di TransTV, dan masih banyak lagi. Sungguh sangat kita sayangkan. Pantas jika para ulama dan LSM-LSM mengecam akan hal ini, sekali lagi para generasi yang akan menjadi sebuah korban tayangan telivisi yang kurang mendidik ini.
Hal ini ternyata kurang mendapat perhatian khusus dari pemerintah, terlebih lagi pada Lembaga kita yaitu LSI. Nampaknya LSI kita tidak mempunyai kekuatan, untuk lebih mempertajam gunting sensornya. Sehingga acara-acara itu sudah terbilang menjamur dan menjadi komoditi yang wajib terlayani oleh penggilanya, khusnya para remaja dibawah umur.
Bila sejenak kita lebih melihat situasi tayangan pertelevisian Indonesia, tayangan pornografi bukan saja ada pada tengah malam. Namun kali ini juga sudah tak segan-segan telah ditayangan di setiap sela-selah waktu. Buktinya adalah Sinetron, film komedi, dan serial televisi lain-lainnya. Tak sampai dengan itu saja, tayangan panggung musik pun sering mengumbar sensualitas para biduannya.
Makin gencarnya tontonan seperti di atas terlebih-lebih lagi adalah sinetron, benar adanya penuh muatan tontonan pornogrtafi. Simbul adat ketimuran kita telah lebur, bersama wacana yang dicontohkan pada kehidupan dunia maya ini (miniatur). Terus menggiring kita pada arah sebuah bentuk peniruan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Walaupun butuh proses yang panjang, kenyataannya kita telah mencotoh dan mempraktekan hal-hal yang ada dilayar televisi. Hal ini sangat berbahaya, bila akhlak sudah tercampur akan nilai wacanah pertelevisian tersebut.
Buktinya, dalam hal pakaian, prilaku ataupun pergaulan yang makin bebas. Kini sudah begitu banyak terlihat, kalangan insan muda di sekolah telah begitu kongkrit memprakterkan gaya pergaulan artis pujaannya di layar kaca. Tak hanya itu saja, pun berpacaran. Di usia sedini tersebut berpacaran ala sinetron pertelevisian, gencar dilakukan, demi meniru pujaan TV dan dianggap penggemar tulen.
Dalam hal berpakaian juga tak luput dari indikasi tayangan. Berbusana yang kurang seragam waktu disekolah, sering diperlihatkan. Fungsi pakaian muslim beruba menjadi area penunjukan seksualitas. Pakaian seragam ala metropolis tak jarang dijumpa, belum lagi pada busana yang dilkenakan diluar sekolah. Inilah trik insan pertelevisian, yang sering menayangkan kepada khlayak pemirsanya, dengan satu tujuan komerialiasiasi iklan.
Terkontaminasinya Tatanan Prilaku Remaja
Berpengaruhnya dominisi acara telivisi pada tatanan berprilaku, nampaknya diubah menjadi komiditi yang sangat menguntungkan. Ironisnya komoditi tersebut, dijawab dengan tayangan yang kurang mendididik, khusunya tayangan program kental dan sarat akan muatan pornografi. Inilah wacana televesi kita yang begitu mengharukan dan berubah terindikasi oleh persaingan yang mulai berubah, dari tayangan yang mendidik, menjadi tayangan perusak tatanan generasi kita.
Pengaruh tayangan telivisi sampai saat ini menjadi penyulut utama, mengapa para generasi mudah melupakan eksistensi norma-norma luhur bangsa Indonesia yang agamis. Pengonsumsian dan klasifikasilah yang juga berperan. Bukan hal yang tidak mungkin, kalau prosesi pendidikan senyatanya lebih sulit diterima oleh memori otak pelajar, daripada nonton film. Convious pernah bertutur, “Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat dan apa yang saya kerjakan saya faham”. Ini tentulah sangat mendukung prosesi pengendapan informasi. Terutama dari film, yang sangat mendukung proses audio fisual (dilihat dan didengar), sedangkan prosesi pendidikan, selama ini masih sering berkutat pada proses mendengar saja. Waktu pun menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Pasalnya durasi pendidikan, dengan durasi melototi film, sangat jelas tidak seimbang.
Sangat ironis. Pengendapan pun dialamai oleh oleh konsumen di bawah umur, senyata juga direalisasi oleh mereka. Yang terjadi, serabut sensorik, telah dikuasi oleh acting-acting porno, fulgar dan tidak mendidik pada pola kemajuan akhlak. Malah menjerumuskan pada pola tindakan seksual, kian bermotif.
Dalam dunia pendidikan, variety film juga ikut mengambil andil besar. Banyak sekali tingkah laku pelajar sekolah, yang juga ikut-ikutan, pada pelakonan film.
Berpakaian dan asesoris menjadi ajang yang layang pandang. Cara dan model pakaian, yang diadopsi dari para centre society, menggema keras yang menggesek proyeksi tata tertib sekolah. Maka banyak sekali pelanggaran harus ditampakkan disana-sini, yang kian menambah komposisi, pelanggaran di dunia pendidikan.
Sehingga komplek sekali, buka’-buka’an aurat para pemuda usia sekolah. Meski dilakukan secara sederhana. Pacaran pun hal yang sangat disoroti di kursi sekolah. Pacaran bebas, yang memudarkan nilai agama, yang kerap terjadi, ditengarai oleh kian liberalnya dunia film, yang menyaksikan film-film ala seks.
Perilaku, pun tidak kalah ketinggalan. Maka pantas kalau Drs. Syamsul Hadi, mengatakan bahwa siswa/siswi lebih patuh pada ajaran yang disampaikan lewat TV, daripada pituduh Bapak/Ibu guru. Padahal, guru-guru merupakan orang tua di sekolah, yang berarti digugu dan ditiru, pituduh dan nasehatnya, ucap pak Syamsul sembari kesal.
Melihat perjalan sang remaja kita, memang penuh dengan pengaruh-pengaruh film. Bergaul sampai sat ini sudah kelewat batas. Wacana pendidikan agamapun luntur dan ditanggalkan begitu saja dalam masyarakat metropolis, kemudian merambah pada daerah pedesaan. Pemuda desa pun mengamini dan mengesahkan hal itu tanpa disaring lebih dahulu. Mendiskripkan tayangan di televisi sah-sah saja walaupun masih belum begitu terlihat. Namun secara terselebung mereka (pelajar) mempunyai benak seperti itu, disadari atau tidak.
Drs. H Moh Amin AZA, guru agama kita, pun pernah mengatakan saat menyikapi permasalahan tersebut di selah waktu mengajarnya. Beliau menjelaskan, media televisi sangat berpengaruh pada kehidupan kalangan remaja atau pelajar, terutama pada prilaku, berbusana, pergaulan dan gaya hidup, yang mencerminkan kebebasan bergaul dalam tanda kutip berpacaran.
Himbauan itu, bukanlah bentuk aturan. Lebih dari itu, sebagai pengingat ternyata secara tidak langsung tontonan tersebut telah mengendalikan kita. Rasanya kurang hari-hari kita tanpa melihat tayangan dalam pertelevisian, hingga melupakan proses belajar. Mengapa demikian ?
Berputarnya acara film di layar kaca selama durasi waktu tertentu, merupakan sistem pengajaran yang sangat efektif dan efesien. Pasalnya, sistem rancang demikian, menjadi sasaran pengajaran yang selama ini sedang gencar-gencarnya dilakukukan oleh pemerintah Indonesia, yakni Kompetensi.
Hasil pun tidak akan jauh berbeda dengan sasaran yang diharapkan dengan pengajaran yang dilakukan di kursi pendidikan formal. Hasil itu berupa pengendapan hasil penginderaan pada layar kaca, pada masing-masing memori, dengan kadar yang lebih mempuni, ketimbang hanya dari cerita dari mulut ke mulut.
Peran Sekolah
Otak yang masih kental akan pengaruh tayangan TV nampak terlihat jelas. Namun sampai saat ini adakah penanganan, untuk mengurangi tayangan pornografi di layar televisi, setidaknya mampu menghindarkan para remaja sekolah agar tidak terkontaminasi tayangan tersebut ???
Sekolah yang menjadi naungan menimbah ilmu, nampaknya harus mendominisi. Katakanlah menjadi resep pengurang penyakit ini dengan memberikan doktrin-doktrin untuk menghindari hal tersebut. Namun peranan sekolah nampaknya kurang mampu. Akan hal ini, agensi-agensi guru nampaknya diacuhkan begitu saja, karena disana sini masih banyak terjadi wabah fenomena seperti ini
Kurangya jangkuan sekolah ke wilayah gerak siswa dilingkup masyarakat umum, menjadi kendala utama. Kurangnya koordinasi sekolah dengan para wali siswa, menjadi batu sandungan utama. Orang tua kurang dinilai sekolah untuk memberikan atau mencegah ketimpangan ini.
Akar permasalahan ini harus cepat dihilangkan, sebelum bangsa kita menumpuk generasi yang rusak. Sekolah dan peran orang tua harus lebih dioptimalkan, jika sekolah mampu memberikan tatanan moral pada garis teretorial sekolah, orang tua juga harus menopang dari segi lingkup umum. “Era seperti ini tak halnya kita adalah sebagi lambang supermasi kebudayaan kita, maka jika kita mengasumsikan budaya pornografi sebagai libelarisme, maka keterpurukan ini adalah sebagai kekeliruan yang paling fatal”, ujar Gali (nama samaran), anak kelas 2 Ak 1 pada kami, saat papar pendapat dengan salah satu temannya.
Menumpuknya batu pornografi seharusnya dihentikan, setelah sekolah sudah berusaha dengan orang tua kini saatnya pemarintah lewat LSI harus cepat mengatasinya dengan memberantas tontonan tersebut.
Friday, October 2, 2009
Talqin
TALQIN
CONTEKAN TERAKHIR MANUSIA
Ditengah hiruk-pikuk kehidupan bersosial, tiba-tiba dari kejauhan, tampaknya dari masjid terletak di tengah desa, terdengar suara pak Modin sedang mengumumkan sesuatu. Setelah diperhatikan seksama, terdengar, “Innalillahi wainna ilaihirrooji’uun, telah meninggal Bu Siti..” dan seterusnya. Warga desa pun sembari agak kaget, berduyun-duyun menuju rumah keluarga, untuk merawat mayat. Memandikan, mengkafani dan disembahyangkan. Setelah itu warga buru-buru membawa mayat ke rumah terkhirnya (kuburan), dan dikuburkan di tanah yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh warga. Mayat diteruh di dalamnya, dan dengan suasana yang memilukan, sedikit demi sedikit, tanah itu ditimbun, untuk menutupi mayat. Selanjutnya, warga dan kyai, tidak lantas pulang begitu saja.
Warga berdiri dan kyai duduk berhadapan dengan mayat mulai membaca do’a yang cukup panjang. Ditengah-tengah do’a itu, nampak sang kyai sedang bercakap dengan mayat Bu Siti. Prosesi pembacaan do’a inilah yang oleh umat Islam dinamai “Talqin”.
Talqin. Menurut Kamus Al Muhith, juz IV hal 268, dalam bahasa Arab yakni “Tafhim”, artinya, memamahamkan atau memberti faham. Sedang menurut istilah agama, Talqin punya dua fersi. Pertama, mengajarkan kepada orang yang akan wafat dengan kalimat tauhid, yakni “Laa Ilaaha Illal Lah, artinya Tiada Tuhan selain Allah”. Kedua, mengingatkan orang yang sudah wafat dan baru saja dikubur beberapa hal penting baginya, untuk menghadapi malaikat Munkar dan Nakir yang akan datang menguji ke-Iman-annya.
Sekalian manusia, atau bahkah semua makhluk sang Khaliq yang bernyawa, pada akhirnya nanti akan berkemas menuju akhirat. Hal itu diawali dengan prosesi kematian suatu makhluk, yang puncaknya terjadi ketika Israfil menjalankan tugasnya, meniup terompet maut. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Az Zumar : 68 yang artinya “Dan ditiup sangkakala sehingga mati sekalian yang berada di langit dan bumi, kecuali orang yang dikehendai Tuhan belum akan mati, kemudian sangkakala dituip sekali lagi maka mereka (yang mati itu) bangun lagi menunggu hukum Tuhan”.
Itulah kematian masal, se alam jagat (Kiamat Kubro). Tapi kali ini bukan itu yang menjadi bahasan kita kali ini, melainkan Kiamat Sughra. Yakni kematian makhluk demi makhluk Tuhan Allah Azza Wa Jallah dalam rentetan kehidupan, alias bukan masal se jagad ini.
Kematian bagi setiap makhluk pastilah terjadi. Tidak ada satupun yang bisa menghindari, merubah atau mengetahui kapan, dimana dan karena apa (Al A’raf 34). Karena kematian, merupakan rahasia-Nya, yang telah ditetapkan di alam Azali.
Talqin di Saat yang Darurat
Kematian adalah keluarnya jiwa dari tubuh seseorang. Saat ini, manusia sedang dalam masa genting. Bagaimana tidak …? KeIslaman manusia selama hidup, akan dibuktikan kala itu. Makanya dalam hadis Imam Muslim, Rasulullah menganjurkan untuk membaca Kalimat Tauhid.
Pasalnya, siapa yang akhir perkataannya di dunia dengan kalimat tauhid, maka dia masuk surga. Makanya, sesama muslim diharapkan membantu saudara se-Islamnya bila menghadapi sakarotul maut. Ini talqin pertama kepada manusia, yakni mengajari manusia untuk mengakui ke-Esa-an Allah di akhir hayatnya. Tak hanya itu, sesama muslim pun disunnahkan untuk membaca Surotul Yasin.
Setelah melewati masa sakarotul maut lewat, dan sudah terbukti meninggal dunia, kewajiban sesama muslim tidak berarti telah gugur. Justru inilah kewajiban sesama muslim mulai diindahkan. Yakni merawat jenazah atau mayat, sebagai upaya penghormatan terakhir kepadanya.
Itu dimulai dengan memandikan jenazah, kecuali bila meninggal dalam peperanganan (mati syahid), mengafani dengan benar dan menyhalatinya. Setelah shalat usai, jenazah harus cepat-cepat dibawa ke kuburan untuk dimakamkan. Mayat dimasukkan ke dalam tanah, ditimbun dan diratakan, tapi para pengantar mayat dianjurkan tidak langsung saja pulang. Sunnah baginya untuk mentalqin (mengingatkan) sang jenazah terlebih dahulu (Adz Dzariyat : 55). Disini Talqin ke dua dijalankan.
Talqin yang dimaksudkan menurut Rasullullah yakni memberikan pelajaran penting tantang apa yang akan ditanyakan oleh malaikat utusan Allah. Misalnya I’tiqad, Tauhid, Syahadat, ke-Tuhan-an, Agama, Nabi, Al Quran dan lain-lain. Tujuannya, tak lain guna melancarkan jawaban atas pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir yang segera datang menghampirinya.
Mereka malaikat yang oleh sang Qidam diberi amanat menanyai manusia yang telah meninggal. Pun diperkenankan menghukumnya, bila tidak sanggup menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar. Mengapa hal itu dilakukan…?
Dalam kitab Hadist Bukhori yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, diterangkan bahwa mayat yang berada di dalam tanah, setelah ditinggal para pengantarnya, dia akan didatangi dua malaikat yang mengujinya. Untuk itulah sebelum para malaikat datang, maka sang mayat hendaknya diperingatkan jawaban-jawaban (memberi contekan) yang betul supaya jawaban tepat, dan tidak keseleo lidahnya (gagap-Red). Mengingat saat itu adalah saat yang sangat gawat, yang bisa membuat orang gugup. Ditambahkan pula dalam Musnad Ahmad bin Hambal, karena keadaan sang mayat baru saja memasuki alam baru yakni alam kubur, yang tentulah membuatnya masih begitu asing.
Bagi muslim dewasa yang telah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tepat, malaikat akan memperlihatkan tempatnya kelak yakni di Surga, sedangkan bagi yang belum berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, maka malaikat akan memukulnya dengan palu besi diantara dua telinganya. Sehingga ia menjerit dan memekik kesakitan, yang terdengar oleh sekaian makhlud Allah, kecuali manusia dan jin. Hal ini akan terus berlangsung sampai dia berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan.
Pendengaran Mayat Pendengan Super
Talqin, yakni memberitahukan jawaban-jawaban yang akan ditanyakan oleh malaikat dua, utusan Allah SWT. Itu berarti terjadi komunikasi satu arah untuk sang mayat. Atau dengan kata lain, sang mayat dengan sang Kyai atau orang yang mentalqini, tidak terjadi komunikasi timbal-balik. Nah, benarkah mayat pada saat itu mendengan ucapan orang yang sedang mentalqininya.
Dalam suatu hadist disebutkan, prosesi talqin semacam itu sangat didengar sang mayat. Itu sesuai dengan hadist sahih, Imam Bukhori, nabi Muhammad SAW bersabda, “Demi Tuhan yang memegang jiwaku, mereka (orang mati) mendengan suaruaku lebih dari kamu mendengarku, tetapi mereka tidak bisa menjawab”.
Diterangkan pula bukan hanya suara talqin saja yang didengar sang mayat kala itu, bahkan suara langkah para pengantarnya, yang berangkat pulang pun bisa didengar dan dirasakan.
Jadi salah besar, orang yang menganggap orang yang mentalqin itu perbuatan bodoh dan tidak ada gunanya. Karena jawaban yang disampaikan dalam doa talqin, begitu diperlukan oleh sang mayat, mengingat dia sebagai peserta baru dalam alam kubur.
Pernah dalam suatu hadis sahabat Umar bin Khotob bertanya kepada Rasulullah, tentang pentingnya talqin. Menurut sahabat Umar, bagaimana bisa orang yang sudah diambil jiwanya, bisa mendengar suara makhluk yang masih tinggal di alam dunia, padahal indra pendengarannya sudah tidak fungsi lagi. Tapi dengan tegas Rasulullah membantah pemikiran Umar tersebut. Rasulullah dengan bijaksana menerangkan, bahwa waktu orang sudah dalam keadaan demikian sangat kuat pendengarannya, bahkan lebih dari orang yang masih hidup.
Itu terjadi, karena manusia di saat itu telah meninggalkan jasad, yang menjadi batas ruang dan waktunya. Maksudnya, kemampuan manusia untuk menginderai pendengarannya, masih dibatasi oleh jasad, berupa tubuh yang membungkus jiwanya. Jadi, kamampuan untuk mendengar manusia di kala hidup, senyatanya lebih lemah ketimbang orang mati. Atau dengan kata lain, orang mati, dan memasuki alam kubur, ternyata lebih kuat pendengarannya, sehingga lebih kuat mendengar suara talqin sang penalqin. Karena dia telah meninggalkan bungkus yang membatasi kemampuannya.
Dicontohkan oleh Drs. H. Moh. Amin AZA, orang mati pendengarannya lebih kuat daripada orang hidup, itu layaknya orang biasa naik pesawat terbang. Maka yang terjadi, dia dapat bergerak jauh lebih cepat dari normalitasnya.
Dari permisalan itu, Aba Amin, mendiskripsikan, manusia hidup diumpamakan seperti manusia normal, yang hanya dapat bergerak sesuai kadarnya. Sedangkan orang mati, layaknya orang yang naik pesawat, dapat bergerak jauh lebih cepat. Dalam konotasi ini, manusia dapat mendengar lebih peka.
Bukan terbatas itu. Kebesaran Allah SWT memberikan kuasaNya, orang yang telah masuk alam kubur, bisa Bahasa Arab tanpa harus kursus Bahasa Arab. Sehingga, talqin dengan Bahasa Arab pun tak jadi masalah buat sang arwah. Dengan kata lain, talqin tidak harus dilakukan dengan menggunakan bahasa daerah yang beraneka ragam.
Pertanyaan Maut sang Malaikat
Kepatuhan manusia selama menjalankan masa ulangan di dunia, belum bisa dibuktikan secara riil, selama ia masih hidup dan masih bisa berkomunikasi dengan sesama, serta masih bisa merasakan nikmatnya alam yang dianugrahkan oleh Allah SWT. Apakah orang itu sudah benar-benar patuh kepada-Nya, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, yakni “Ikhlas”. Atau seseorang itu masih menjalankan perintah sang Yang Wajib Wujud (Allah), hanya karena dimotifasi oleh keinginan dunia nan memenara. Atau bahkan melakukan kewajiban-Nya, karena didorong rasa Ego pada sesama. Itu semua masih belum bisa ditebak.
Maka predikat yang diberikan oleh orang, masih berkutat pada tingkah dan tindak-tanduk, yang dapat dilihat oleh kasat mata. Sehingga, arti kebohongan dan keimanan sang makhluk masih belum patent.
KeImanan, keIslaman, keIkhsanan dan keikhlasan seseorang menerjunkan diri dalam agama yang diridloi Allah, baru bisa dibuktikan kala ia sudah tidak bernyawa. Hal itu terjadi, saat keluarnya nyawa dan saat nyawa didudukkan untuk ditanyai si malaikat penguji di alam kubur.
Disini, kebohongan dan kejujuran manusia yang benar atau salah mulai bisa dinetralisir. Dibuktikan dengan ketetepatannya menjawab semua pertanyaan yang diujikan oleh Munkar dan Nakir.
Pertanyaan apa saja…?
Dalam do’a Taliqin disebutkan tujuh pertanyaan yang akan mengantarkan orang bisa tidur nyenyak dalam alam kubur atau sebaiknya akan disiksa (dipukul) hingga kiamat tiba, yakni sebagaimana penggalam arti do’a Talqin berikut :
“………..
Kalau datang kepadamu dua dan kepada kawan-kawanmu yang sama dengan kamu dari umat Nabi Muhammad SAW, maka janganlah engkau terkejut dan takut karena keduanya adalah makhluk Allah serupa kamu juga. Kalau mereka sudah datang dan mereka dudukkan engkau dan mereka bertanya siapa Tuhan engkau, apa Agama engkau , siapa Nabi engkau, apa I’tikad engkau, dan apa yang engkau bawa mati, maka jawablah ; Allah Tuhanku. Kalau mereka bertanya lagi maka jawablah : Allah Tuhanku. Kalau mereka tanya yang ketiga kali, dan itulah kesudahan yang baik, maka jawablah dengan suara lantang, tidak takut dan gelisah : Tuhanku Allah, Islam agamaku, Muhammad Nabiku, AlQuran imamku, Ka’bah qiblatku, Sembahyang kewajibanku, kaum muslimin saudaraku, Nabi Ibrahim bapakku dan aku hidup dan mati diatas kalimah “Laaa IlaaHa Illal Lah, Muhammadur Rasulullah.
………..”
Demikian pertanyaan yang diajukan malaikat kepada hamba Allah yang telah memasuki alam kubur, dan telah ditinggal semua penunggu (pengantar) nya. Maka barang siapa berhasil lulus dari ujian itu, malaikat akan menidurkan kembali dan menunjukkan tempatnya kelak. Tapi sebaliknya, siapa yang ketika dia ditanya, dan jawabannya “Tidak Tahu”, maka pukulan demi pukulan akan senantiasa menghantam diantara dua telinganya, hingga hari kiamat datang.
Talqin yang percuma
Tidak semua talqin bermanfaat bagi manusia yang telah meninggal. Adakalanya talqin itu menjadi isapan jempol balaka. Alias tidak berguna bagi orang yang meninggal, kendati telah diucapkan jawaban, atas soal-soal yang akan disampaikan.
Kegagalan talqin macam itu, akan dialami oleh orang-orang yang selama hidup senantiasa barbuat zalim, menanam dosa dan selalu mengingkari Allah SWT. Bagi orang-orang demikian, talqin tidak akan berfungsi. Dan jawaban yagn disampaikan oleh pengucap talqin, tidak akan masuk dalam ruh, orang yang meninggal.
Dia hanya bisa mendengar apa yang disampaikan oleh sang penalqin, tapi tidak sanggup merekuntruksi ulang, apa yang sebenarnya disampaikan oleh penalqin. Sehingga, ketika dua utusan Allah datang kepadanya, maka dia tidak sanggup mengucapkan seperti yang telah disampaikan kepadanya.
Tetep saja dia tidak sanggup menjawab pertanyaan malaikat (Mungkar dan Nakir). Bahkan dalam suatu cerita disebutkan, orang yang senantiasa berbuat dosa, maka ketika dia diuji oleh malaikat, niscaya dia akan menjawabnya dengan apa yang ia pedomani selama di dunia (non Al Quran).
CONTEKAN TERAKHIR MANUSIA
Ditengah hiruk-pikuk kehidupan bersosial, tiba-tiba dari kejauhan, tampaknya dari masjid terletak di tengah desa, terdengar suara pak Modin sedang mengumumkan sesuatu. Setelah diperhatikan seksama, terdengar, “Innalillahi wainna ilaihirrooji’uun, telah meninggal Bu Siti..” dan seterusnya. Warga desa pun sembari agak kaget, berduyun-duyun menuju rumah keluarga, untuk merawat mayat. Memandikan, mengkafani dan disembahyangkan. Setelah itu warga buru-buru membawa mayat ke rumah terkhirnya (kuburan), dan dikuburkan di tanah yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh warga. Mayat diteruh di dalamnya, dan dengan suasana yang memilukan, sedikit demi sedikit, tanah itu ditimbun, untuk menutupi mayat. Selanjutnya, warga dan kyai, tidak lantas pulang begitu saja.
Warga berdiri dan kyai duduk berhadapan dengan mayat mulai membaca do’a yang cukup panjang. Ditengah-tengah do’a itu, nampak sang kyai sedang bercakap dengan mayat Bu Siti. Prosesi pembacaan do’a inilah yang oleh umat Islam dinamai “Talqin”.
Talqin. Menurut Kamus Al Muhith, juz IV hal 268, dalam bahasa Arab yakni “Tafhim”, artinya, memamahamkan atau memberti faham. Sedang menurut istilah agama, Talqin punya dua fersi. Pertama, mengajarkan kepada orang yang akan wafat dengan kalimat tauhid, yakni “Laa Ilaaha Illal Lah, artinya Tiada Tuhan selain Allah”. Kedua, mengingatkan orang yang sudah wafat dan baru saja dikubur beberapa hal penting baginya, untuk menghadapi malaikat Munkar dan Nakir yang akan datang menguji ke-Iman-annya.
Sekalian manusia, atau bahkah semua makhluk sang Khaliq yang bernyawa, pada akhirnya nanti akan berkemas menuju akhirat. Hal itu diawali dengan prosesi kematian suatu makhluk, yang puncaknya terjadi ketika Israfil menjalankan tugasnya, meniup terompet maut. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Az Zumar : 68 yang artinya “Dan ditiup sangkakala sehingga mati sekalian yang berada di langit dan bumi, kecuali orang yang dikehendai Tuhan belum akan mati, kemudian sangkakala dituip sekali lagi maka mereka (yang mati itu) bangun lagi menunggu hukum Tuhan”.
Itulah kematian masal, se alam jagat (Kiamat Kubro). Tapi kali ini bukan itu yang menjadi bahasan kita kali ini, melainkan Kiamat Sughra. Yakni kematian makhluk demi makhluk Tuhan Allah Azza Wa Jallah dalam rentetan kehidupan, alias bukan masal se jagad ini.
Kematian bagi setiap makhluk pastilah terjadi. Tidak ada satupun yang bisa menghindari, merubah atau mengetahui kapan, dimana dan karena apa (Al A’raf 34). Karena kematian, merupakan rahasia-Nya, yang telah ditetapkan di alam Azali.
Talqin di Saat yang Darurat
Kematian adalah keluarnya jiwa dari tubuh seseorang. Saat ini, manusia sedang dalam masa genting. Bagaimana tidak …? KeIslaman manusia selama hidup, akan dibuktikan kala itu. Makanya dalam hadis Imam Muslim, Rasulullah menganjurkan untuk membaca Kalimat Tauhid.
Pasalnya, siapa yang akhir perkataannya di dunia dengan kalimat tauhid, maka dia masuk surga. Makanya, sesama muslim diharapkan membantu saudara se-Islamnya bila menghadapi sakarotul maut. Ini talqin pertama kepada manusia, yakni mengajari manusia untuk mengakui ke-Esa-an Allah di akhir hayatnya. Tak hanya itu, sesama muslim pun disunnahkan untuk membaca Surotul Yasin.
Setelah melewati masa sakarotul maut lewat, dan sudah terbukti meninggal dunia, kewajiban sesama muslim tidak berarti telah gugur. Justru inilah kewajiban sesama muslim mulai diindahkan. Yakni merawat jenazah atau mayat, sebagai upaya penghormatan terakhir kepadanya.
Itu dimulai dengan memandikan jenazah, kecuali bila meninggal dalam peperanganan (mati syahid), mengafani dengan benar dan menyhalatinya. Setelah shalat usai, jenazah harus cepat-cepat dibawa ke kuburan untuk dimakamkan. Mayat dimasukkan ke dalam tanah, ditimbun dan diratakan, tapi para pengantar mayat dianjurkan tidak langsung saja pulang. Sunnah baginya untuk mentalqin (mengingatkan) sang jenazah terlebih dahulu (Adz Dzariyat : 55). Disini Talqin ke dua dijalankan.
Talqin yang dimaksudkan menurut Rasullullah yakni memberikan pelajaran penting tantang apa yang akan ditanyakan oleh malaikat utusan Allah. Misalnya I’tiqad, Tauhid, Syahadat, ke-Tuhan-an, Agama, Nabi, Al Quran dan lain-lain. Tujuannya, tak lain guna melancarkan jawaban atas pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir yang segera datang menghampirinya.
Mereka malaikat yang oleh sang Qidam diberi amanat menanyai manusia yang telah meninggal. Pun diperkenankan menghukumnya, bila tidak sanggup menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar. Mengapa hal itu dilakukan…?
Dalam kitab Hadist Bukhori yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, diterangkan bahwa mayat yang berada di dalam tanah, setelah ditinggal para pengantarnya, dia akan didatangi dua malaikat yang mengujinya. Untuk itulah sebelum para malaikat datang, maka sang mayat hendaknya diperingatkan jawaban-jawaban (memberi contekan) yang betul supaya jawaban tepat, dan tidak keseleo lidahnya (gagap-Red). Mengingat saat itu adalah saat yang sangat gawat, yang bisa membuat orang gugup. Ditambahkan pula dalam Musnad Ahmad bin Hambal, karena keadaan sang mayat baru saja memasuki alam baru yakni alam kubur, yang tentulah membuatnya masih begitu asing.
Bagi muslim dewasa yang telah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tepat, malaikat akan memperlihatkan tempatnya kelak yakni di Surga, sedangkan bagi yang belum berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, maka malaikat akan memukulnya dengan palu besi diantara dua telinganya. Sehingga ia menjerit dan memekik kesakitan, yang terdengar oleh sekaian makhlud Allah, kecuali manusia dan jin. Hal ini akan terus berlangsung sampai dia berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan.
Pendengaran Mayat Pendengan Super
Talqin, yakni memberitahukan jawaban-jawaban yang akan ditanyakan oleh malaikat dua, utusan Allah SWT. Itu berarti terjadi komunikasi satu arah untuk sang mayat. Atau dengan kata lain, sang mayat dengan sang Kyai atau orang yang mentalqini, tidak terjadi komunikasi timbal-balik. Nah, benarkah mayat pada saat itu mendengan ucapan orang yang sedang mentalqininya.
Dalam suatu hadist disebutkan, prosesi talqin semacam itu sangat didengar sang mayat. Itu sesuai dengan hadist sahih, Imam Bukhori, nabi Muhammad SAW bersabda, “Demi Tuhan yang memegang jiwaku, mereka (orang mati) mendengan suaruaku lebih dari kamu mendengarku, tetapi mereka tidak bisa menjawab”.
Diterangkan pula bukan hanya suara talqin saja yang didengar sang mayat kala itu, bahkan suara langkah para pengantarnya, yang berangkat pulang pun bisa didengar dan dirasakan.
Jadi salah besar, orang yang menganggap orang yang mentalqin itu perbuatan bodoh dan tidak ada gunanya. Karena jawaban yang disampaikan dalam doa talqin, begitu diperlukan oleh sang mayat, mengingat dia sebagai peserta baru dalam alam kubur.
Pernah dalam suatu hadis sahabat Umar bin Khotob bertanya kepada Rasulullah, tentang pentingnya talqin. Menurut sahabat Umar, bagaimana bisa orang yang sudah diambil jiwanya, bisa mendengar suara makhluk yang masih tinggal di alam dunia, padahal indra pendengarannya sudah tidak fungsi lagi. Tapi dengan tegas Rasulullah membantah pemikiran Umar tersebut. Rasulullah dengan bijaksana menerangkan, bahwa waktu orang sudah dalam keadaan demikian sangat kuat pendengarannya, bahkan lebih dari orang yang masih hidup.
Itu terjadi, karena manusia di saat itu telah meninggalkan jasad, yang menjadi batas ruang dan waktunya. Maksudnya, kemampuan manusia untuk menginderai pendengarannya, masih dibatasi oleh jasad, berupa tubuh yang membungkus jiwanya. Jadi, kamampuan untuk mendengar manusia di kala hidup, senyatanya lebih lemah ketimbang orang mati. Atau dengan kata lain, orang mati, dan memasuki alam kubur, ternyata lebih kuat pendengarannya, sehingga lebih kuat mendengar suara talqin sang penalqin. Karena dia telah meninggalkan bungkus yang membatasi kemampuannya.
Dicontohkan oleh Drs. H. Moh. Amin AZA, orang mati pendengarannya lebih kuat daripada orang hidup, itu layaknya orang biasa naik pesawat terbang. Maka yang terjadi, dia dapat bergerak jauh lebih cepat dari normalitasnya.
Dari permisalan itu, Aba Amin, mendiskripsikan, manusia hidup diumpamakan seperti manusia normal, yang hanya dapat bergerak sesuai kadarnya. Sedangkan orang mati, layaknya orang yang naik pesawat, dapat bergerak jauh lebih cepat. Dalam konotasi ini, manusia dapat mendengar lebih peka.
Bukan terbatas itu. Kebesaran Allah SWT memberikan kuasaNya, orang yang telah masuk alam kubur, bisa Bahasa Arab tanpa harus kursus Bahasa Arab. Sehingga, talqin dengan Bahasa Arab pun tak jadi masalah buat sang arwah. Dengan kata lain, talqin tidak harus dilakukan dengan menggunakan bahasa daerah yang beraneka ragam.
Pertanyaan Maut sang Malaikat
Kepatuhan manusia selama menjalankan masa ulangan di dunia, belum bisa dibuktikan secara riil, selama ia masih hidup dan masih bisa berkomunikasi dengan sesama, serta masih bisa merasakan nikmatnya alam yang dianugrahkan oleh Allah SWT. Apakah orang itu sudah benar-benar patuh kepada-Nya, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, yakni “Ikhlas”. Atau seseorang itu masih menjalankan perintah sang Yang Wajib Wujud (Allah), hanya karena dimotifasi oleh keinginan dunia nan memenara. Atau bahkan melakukan kewajiban-Nya, karena didorong rasa Ego pada sesama. Itu semua masih belum bisa ditebak.
Maka predikat yang diberikan oleh orang, masih berkutat pada tingkah dan tindak-tanduk, yang dapat dilihat oleh kasat mata. Sehingga, arti kebohongan dan keimanan sang makhluk masih belum patent.
KeImanan, keIslaman, keIkhsanan dan keikhlasan seseorang menerjunkan diri dalam agama yang diridloi Allah, baru bisa dibuktikan kala ia sudah tidak bernyawa. Hal itu terjadi, saat keluarnya nyawa dan saat nyawa didudukkan untuk ditanyai si malaikat penguji di alam kubur.
Disini, kebohongan dan kejujuran manusia yang benar atau salah mulai bisa dinetralisir. Dibuktikan dengan ketetepatannya menjawab semua pertanyaan yang diujikan oleh Munkar dan Nakir.
Pertanyaan apa saja…?
Dalam do’a Taliqin disebutkan tujuh pertanyaan yang akan mengantarkan orang bisa tidur nyenyak dalam alam kubur atau sebaiknya akan disiksa (dipukul) hingga kiamat tiba, yakni sebagaimana penggalam arti do’a Talqin berikut :
“………..
Kalau datang kepadamu dua dan kepada kawan-kawanmu yang sama dengan kamu dari umat Nabi Muhammad SAW, maka janganlah engkau terkejut dan takut karena keduanya adalah makhluk Allah serupa kamu juga. Kalau mereka sudah datang dan mereka dudukkan engkau dan mereka bertanya siapa Tuhan engkau, apa Agama engkau , siapa Nabi engkau, apa I’tikad engkau, dan apa yang engkau bawa mati, maka jawablah ; Allah Tuhanku. Kalau mereka bertanya lagi maka jawablah : Allah Tuhanku. Kalau mereka tanya yang ketiga kali, dan itulah kesudahan yang baik, maka jawablah dengan suara lantang, tidak takut dan gelisah : Tuhanku Allah, Islam agamaku, Muhammad Nabiku, AlQuran imamku, Ka’bah qiblatku, Sembahyang kewajibanku, kaum muslimin saudaraku, Nabi Ibrahim bapakku dan aku hidup dan mati diatas kalimah “Laaa IlaaHa Illal Lah, Muhammadur Rasulullah.
………..”
Demikian pertanyaan yang diajukan malaikat kepada hamba Allah yang telah memasuki alam kubur, dan telah ditinggal semua penunggu (pengantar) nya. Maka barang siapa berhasil lulus dari ujian itu, malaikat akan menidurkan kembali dan menunjukkan tempatnya kelak. Tapi sebaliknya, siapa yang ketika dia ditanya, dan jawabannya “Tidak Tahu”, maka pukulan demi pukulan akan senantiasa menghantam diantara dua telinganya, hingga hari kiamat datang.
Talqin yang percuma
Tidak semua talqin bermanfaat bagi manusia yang telah meninggal. Adakalanya talqin itu menjadi isapan jempol balaka. Alias tidak berguna bagi orang yang meninggal, kendati telah diucapkan jawaban, atas soal-soal yang akan disampaikan.
Kegagalan talqin macam itu, akan dialami oleh orang-orang yang selama hidup senantiasa barbuat zalim, menanam dosa dan selalu mengingkari Allah SWT. Bagi orang-orang demikian, talqin tidak akan berfungsi. Dan jawaban yagn disampaikan oleh pengucap talqin, tidak akan masuk dalam ruh, orang yang meninggal.
Dia hanya bisa mendengar apa yang disampaikan oleh sang penalqin, tapi tidak sanggup merekuntruksi ulang, apa yang sebenarnya disampaikan oleh penalqin. Sehingga, ketika dua utusan Allah datang kepadanya, maka dia tidak sanggup mengucapkan seperti yang telah disampaikan kepadanya.
Tetep saja dia tidak sanggup menjawab pertanyaan malaikat (Mungkar dan Nakir). Bahkan dalam suatu cerita disebutkan, orang yang senantiasa berbuat dosa, maka ketika dia diuji oleh malaikat, niscaya dia akan menjawabnya dengan apa yang ia pedomani selama di dunia (non Al Quran).
Tuesday, July 28, 2009
AGAMA DAN WANITA
KETIKA AGAMA MEMFRASEKAN KEDUDUKAN PEREMPUAN
Perempuan selalu asyik untuk diperbincangkan. Kaum hawa selalu menjadi subyak keindahan. Tapi sudah saatnya semua yang ada sebagai insani, harus menyadari bahwa keindahan wanita, tidak dibarengai dengan sebuah kedudukan atau equelity.
Bentuk penindasan masih begitu lekat sampai sekarang. Jadi sepertinya sudah menjadi keharusan, jika kaum feminis harus menjadi manusia kedua setelah laki-laki. Penindasan itu sering dan nampak terjadi, exploitasi, pemerkosaan kedudukan hak dan persamaan yang lainnya masih begitu tumbuh subur.
Namun saatnya kita tanyakan tentang diskripsinya lewat agama. Mengapa sampai saat ini perempuan masih tertindas hak-haknya ? Dan bagaimana jika di dunia ini hanya terdapat kaum laki-laki saja atau sebaliknya kaum perempuan saja. Dan bagaimana pula jika Tuhan hanya menciptakan satu makluk tanpa adanya pasangan ?
Hakikat manusia dalam penciptaanya mempunyai drajat yang begitu sama, yakni sama dalam artian kodratinya, namun dalam jarak bentangan waktu, kedudukan tersebut terdegardasi dan berubah menjadi sebuah penindasan, layaknya yang kuat menindas yang lemah, itulah yang sudah terjadi.
Tuhan menciptakan makluknya dengan saling berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada kaya ada miskin, begitu juga ada laki-laki juga ada perempuan. Tidak mungkin Tuhan menciptakan makluk tanpa adanya pasangan. Karena Dia dalam kitab-Nya telah berfiman, bahwa Dia akan menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan.
Tuhan Maha Adil. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia di dunia ini. Begitu juga kita sebagai manusia. Manusia diciptakan di dunia ini bukan hanya sebagai pengisi bumi ini. Akan tetapi mempunyai tugas yang manusia itu sendiri tidak boleh melalaikan tugas tersebut. Kita harus ingat bahwa tugas yang utama dari manusia adalah ibadah.
Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan berbagai persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Dengan keadaan itulah mereka dapat saling melengkapi. Pada dasarnya manusia merupakan percampuran dari dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Tidak ada orang yang seratus persen laki-laki atau seratus persen perempuan.
Artinya perempuan mempunyai unsur sifat laki-laki begitu pula laki-laki mempunyai unsur sifat perempuan. Pernahkah anda melihat seorang laki-laki yang berperilaku lemah lembut layaknya seorang perempuan? Dan pernahkah pula anda melihat seorang perempuan yang bertingkah laku tegap dan kekar layaknya seorang laki-laki. Itulah bukti konkret bahwa manusia percampuran antara laki-laki dan perempuan. Hanya saja pada tubuh seorang laki-laki mempunyai kandungan hormon laki-laki yang lebih banyak dari pada hormon perempuan, begitu pula pada tubuh seorang perempuan mempunyai kandungan hormon perempuan yang lebih banyak dari pada hormon laki-laki.
Manusia merupakan unsur gabungan atau percampuran dari laki-laki dan perempuan. Namun kita tidak bisa memungkiri bahwa antara laki-laki dan perempuan tetap berbeda. Laki-laki identik dengan penampilan yang kuat, tegap, kokoh dan kekar serta memiliki fisik yang lebih kuat dari pada perempuan sedangkan perempuan sebagai sosok yang lemah lembut dan selalu membutuhkan perlindungan. Itulah sebabnya tugas laki-laki melindungi dan mengayomi kaum perempuan. Akan tetapi kita sebagai perempuan bukan berarti harus selalu lemah dan selalu berada dalam naungan dan perlindungan laki-laki. Perempuan juga mempunyai peranan yang sangat penting, selain itu perempuan juga mempunyai kelebihan yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, diantaranya adalah hamil dan menyusui.
Dalam kehidupan berumah tangga perempuan laksana perhiasan yang harus selalu menjaga kindahan dan kemurniaannya. Untuk itu perempuan harus selalu berpenampilan baik, rapi dan sopan. Namun kalau kita lihat dimasa sekarang banyak sekali perempuan-perempuan yang memakai pakaian yang terlalu vulgar agar tampak seksi. Cara berpakaian mereka sangatlah tidak sesuai dengan etika dan ajaran agama. Tampaknya pakaian sudah tidak difunsikan sebagai penutup aurat sebagaimana yang diajarkan oleh agama, melainkansebagai sarana pemicu kemaksiatan. Banyak sekali mode pakaian yang dirancang dengan tujuan untuk menonjolkan bagian-bagian tertentu, padahal bagian tersebut seharusnya ditutupi, bukan sebaliknya malah dipamerkan atau dipertontonkan dengan tujuan mencari sensasi dan menarik perhatian orang lain.Tampaknya mayoritas bangsa lebih cenderung mengikuti budaya barat tanpa menghiraukan peraturan dan ajaran agama. Kalau demikian faktanya maka kehormatan dan kemurnian perempuan akan terkoyak.
Pernahkah anda berfikir mengapa Tuhan menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan? Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan pasti dengan adanya alasan tertentu laki-laki diciptakan didunia ini adalah dengan tujuan untuk mewakili keperkasaan Tuhan, oleh sebab itu laki-laki diciptakan dengan kondisi tubuh yang kuat, kokoh, kekar dan perkasa.Sedangkan perempuan diciptakan dengan tujuan untuk mewakili kelembutan Tuhan, itulah mengapa perempuan identik dengan penampilan yang lemah lembut. Hal tersebut merupakan sebuah kodrat yang tak bisa kita pungkiri.
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makluk yang paling terhormat dan termulya. Tahukah kalian mengapa manusia menyandang predikat sebagai makluk yang paling mulya padahal manusia tercipta dari tanah dan setetes air hina (sperma). Hal tersebut adalah karena manusia dikaruniai sebuah akal yang tidak dimiliki oleh makluk ciptaan Tuhan yang lain. Dengan akal itulah manusia dapat berfikir dengan menggunakan nalar. Dengan akal tersebut pula manusia mempunyai rasa malu, rasa ingin tahu, dan rasa ingin mengembangkan diri.
Secara logika laki-laki diciptakan lebih kuat dari pada perempuan.Selain dalam hal kekuatan fisik, dalam hal berfikir dan kecanggian otak / IQ laki-laki sebenarnya lebih tinggi dari pada perempuan. []
Perempuan selalu asyik untuk diperbincangkan. Kaum hawa selalu menjadi subyak keindahan. Tapi sudah saatnya semua yang ada sebagai insani, harus menyadari bahwa keindahan wanita, tidak dibarengai dengan sebuah kedudukan atau equelity.
Bentuk penindasan masih begitu lekat sampai sekarang. Jadi sepertinya sudah menjadi keharusan, jika kaum feminis harus menjadi manusia kedua setelah laki-laki. Penindasan itu sering dan nampak terjadi, exploitasi, pemerkosaan kedudukan hak dan persamaan yang lainnya masih begitu tumbuh subur.
Namun saatnya kita tanyakan tentang diskripsinya lewat agama. Mengapa sampai saat ini perempuan masih tertindas hak-haknya ? Dan bagaimana jika di dunia ini hanya terdapat kaum laki-laki saja atau sebaliknya kaum perempuan saja. Dan bagaimana pula jika Tuhan hanya menciptakan satu makluk tanpa adanya pasangan ?
Hakikat manusia dalam penciptaanya mempunyai drajat yang begitu sama, yakni sama dalam artian kodratinya, namun dalam jarak bentangan waktu, kedudukan tersebut terdegardasi dan berubah menjadi sebuah penindasan, layaknya yang kuat menindas yang lemah, itulah yang sudah terjadi.
Tuhan menciptakan makluknya dengan saling berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada kaya ada miskin, begitu juga ada laki-laki juga ada perempuan. Tidak mungkin Tuhan menciptakan makluk tanpa adanya pasangan. Karena Dia dalam kitab-Nya telah berfiman, bahwa Dia akan menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan.
Tuhan Maha Adil. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia di dunia ini. Begitu juga kita sebagai manusia. Manusia diciptakan di dunia ini bukan hanya sebagai pengisi bumi ini. Akan tetapi mempunyai tugas yang manusia itu sendiri tidak boleh melalaikan tugas tersebut. Kita harus ingat bahwa tugas yang utama dari manusia adalah ibadah.
Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan berbagai persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Dengan keadaan itulah mereka dapat saling melengkapi. Pada dasarnya manusia merupakan percampuran dari dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Tidak ada orang yang seratus persen laki-laki atau seratus persen perempuan.
Artinya perempuan mempunyai unsur sifat laki-laki begitu pula laki-laki mempunyai unsur sifat perempuan. Pernahkah anda melihat seorang laki-laki yang berperilaku lemah lembut layaknya seorang perempuan? Dan pernahkah pula anda melihat seorang perempuan yang bertingkah laku tegap dan kekar layaknya seorang laki-laki. Itulah bukti konkret bahwa manusia percampuran antara laki-laki dan perempuan. Hanya saja pada tubuh seorang laki-laki mempunyai kandungan hormon laki-laki yang lebih banyak dari pada hormon perempuan, begitu pula pada tubuh seorang perempuan mempunyai kandungan hormon perempuan yang lebih banyak dari pada hormon laki-laki.
Manusia merupakan unsur gabungan atau percampuran dari laki-laki dan perempuan. Namun kita tidak bisa memungkiri bahwa antara laki-laki dan perempuan tetap berbeda. Laki-laki identik dengan penampilan yang kuat, tegap, kokoh dan kekar serta memiliki fisik yang lebih kuat dari pada perempuan sedangkan perempuan sebagai sosok yang lemah lembut dan selalu membutuhkan perlindungan. Itulah sebabnya tugas laki-laki melindungi dan mengayomi kaum perempuan. Akan tetapi kita sebagai perempuan bukan berarti harus selalu lemah dan selalu berada dalam naungan dan perlindungan laki-laki. Perempuan juga mempunyai peranan yang sangat penting, selain itu perempuan juga mempunyai kelebihan yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, diantaranya adalah hamil dan menyusui.
Dalam kehidupan berumah tangga perempuan laksana perhiasan yang harus selalu menjaga kindahan dan kemurniaannya. Untuk itu perempuan harus selalu berpenampilan baik, rapi dan sopan. Namun kalau kita lihat dimasa sekarang banyak sekali perempuan-perempuan yang memakai pakaian yang terlalu vulgar agar tampak seksi. Cara berpakaian mereka sangatlah tidak sesuai dengan etika dan ajaran agama. Tampaknya pakaian sudah tidak difunsikan sebagai penutup aurat sebagaimana yang diajarkan oleh agama, melainkansebagai sarana pemicu kemaksiatan. Banyak sekali mode pakaian yang dirancang dengan tujuan untuk menonjolkan bagian-bagian tertentu, padahal bagian tersebut seharusnya ditutupi, bukan sebaliknya malah dipamerkan atau dipertontonkan dengan tujuan mencari sensasi dan menarik perhatian orang lain.Tampaknya mayoritas bangsa lebih cenderung mengikuti budaya barat tanpa menghiraukan peraturan dan ajaran agama. Kalau demikian faktanya maka kehormatan dan kemurnian perempuan akan terkoyak.
Pernahkah anda berfikir mengapa Tuhan menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan? Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan pasti dengan adanya alasan tertentu laki-laki diciptakan didunia ini adalah dengan tujuan untuk mewakili keperkasaan Tuhan, oleh sebab itu laki-laki diciptakan dengan kondisi tubuh yang kuat, kokoh, kekar dan perkasa.Sedangkan perempuan diciptakan dengan tujuan untuk mewakili kelembutan Tuhan, itulah mengapa perempuan identik dengan penampilan yang lemah lembut. Hal tersebut merupakan sebuah kodrat yang tak bisa kita pungkiri.
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makluk yang paling terhormat dan termulya. Tahukah kalian mengapa manusia menyandang predikat sebagai makluk yang paling mulya padahal manusia tercipta dari tanah dan setetes air hina (sperma). Hal tersebut adalah karena manusia dikaruniai sebuah akal yang tidak dimiliki oleh makluk ciptaan Tuhan yang lain. Dengan akal itulah manusia dapat berfikir dengan menggunakan nalar. Dengan akal tersebut pula manusia mempunyai rasa malu, rasa ingin tahu, dan rasa ingin mengembangkan diri.
Secara logika laki-laki diciptakan lebih kuat dari pada perempuan.Selain dalam hal kekuatan fisik, dalam hal berfikir dan kecanggian otak / IQ laki-laki sebenarnya lebih tinggi dari pada perempuan. []
WAH
WAH ....
“Malu bertanya sesat di jalan”. Petuah ini memang cocok, untuk menggambarkan betapa pentingnya nilai atau budaya bertanya. Suatu kebiasaan yang harus senantiasa dipegang oleh para pelajar, difahami dan dipraktekkan, demi mendapat suatu kemapanan keilmuan. Sehingga sebagai subyek, tidak hanya mengamini apa yang disampaikan oleh guru atau fasilitator, sembari datang, duduk, diam dan ngewe. Tapi bisa menyaring segala informasi yang disampaikan oleh mereka.
Kendati demikian, kebudayaan bertanya, lebih-lebih Discus, masih begitu kolotnya diterapkan di lingkungan pendidikan. Rancang tanya jawab, dengan mempertemukan opini, dengan membeberkan data dan relita yang terjadi, masih menjadi beban, yang terasa berat dipikul. Padahal, manfaat yang diperoleh dari diskusi, sangat besar, bagi pengendapan knowladge dan infomasi, dalam serabut sensorik manusia. Sehingga informasi yang ada, akan dengan mudah tersimpan, sekaligus mudah diputar kembali, bila dibutuhkan.
Merekonstruksi diskusi, lebih pakemnya kita berjalan-jalan bersama Syekh Az Zarnuji, tokoh sekaligus pengarang ilmu Ta’limul Muta’allim, yang menjadi pedoman belajar bagi para pelajar.
Menempuh pendidikan, diwajibkan bagi setiap insani. Yakni memasukkan informasi dari dunia. Sistem penyimpanan informasi pun tidak semudah kita menyimpan uang di bank, yang dapat disimpan dan diambil setiap saat. Ada kalanya suatu informasi yang telah mantap difahami dan disimpan pada durasi waktu tertentu, tapi selanjutnya ketika kita hendak membuka kembali informasi itu, kita mengalami kesulitan, sehingga informasi itu hilang, dan kita selangkah mundur. Karena telah kecolongan satu informasi.
Untuk itu, perlu suatu strategi yang sanggup menyimpan, demikian juga sanggup pula merekonstruksi informasi itu, bila dibutuhkan. Menyiasati hal itu Az Zarnuji punya trik khusus, sehingga informasi atau ilmu yang telah masuk, bisa terkunci kuat dalam ingatan, plus kita sanggup membuka kembali. Trik itu yakni “Diskusi”. Ya diskusi sebagai Key (kunci)-nya.
“Almudzakaroti wal munadloroti” atau penalaran dan saling tukar pikiran, merupakan suatu kunci dalam menyimpan informasi. Mengapa..? Karena manfaat dari diskusi atau perdebatan, yang disertai hati, fikiran dan I’tikad baik, jernih dan penuh penalaran, sanggup menelorkan hasil yang lebih kuat daripada faedah mengulang-ulang materi.
Hal itu terjadi, karena kala diskusi dikumandangkan, maka tanpa komando dari manapun, audient harus turut serta menyumbangkan buah fikiran, turut berfikir, mengingat dan merenung, kalau ia memang benar-benar mau merasakan buahnya diskusi. Apa saja itu ?
Pertama, peserta diskusi harus latihan memahami suatu topik. Artinya, dia harus mempunyai kemampuan menyaring apa tema yang sedang diangkat pada saat diskusi dibeberkan. Makanya, peserta tidak boleh njelantur, atau asal ngomong tampa tahu benar permasalahan. Ia harus tahu dulu, baru beropini.
Kedua, sebanyak mungkin mengumpulkan literatur. “Iqro’..”, mutlak harus dibudayakan. Semakin banyak inforamasi yang didapat dari literatur, memahami dan merenungkan, maka semakin kuat pijakan atau pengetahuan dalam memaparkan suatu usulan. Sehingga bahaya-bahaya orang yang tidak waras cara fikirnya (suka menjegal), dapat dihindari. Dan untuk semakin memperkuat kedudukan, maka bumbuh berupa informasi-informasi dari segala sumber, seperti tokoh-tokoh penting, dari infotainmen-infotainmen yang beredar di lingkungan, baik TV ataupun lainnya, juga diperlukan. Alhasil apa yang kita disampaikan, punya alasan dan ruang yang kuat. Makanya Az Zarnuji menyebutkan, diskusi selain dapat mengulang ilmu yang telah ada, juga dapat memperoleh ilmu baru yang belum diketahui. Mengulang berarti, merekonstruksi informasi yang didapat dari berbagai sumber, menambah ilmu yang belum diketahui yakni, mengadu ilmu kita dengan rekan yang lain, sehingga dapat menghasilkan ilmu-ilmu baru, baik dari rekan atau dari diri kita sendiri, manakala sedang terjepit, sehingga spontanitas memunculkan strategi mempertahankan opini.
Ketiga, diskusi juga dapat melatih demokrasi, tidak diktator, melatih keberanian dan kelihaian berbicara atau mengusulkan ide pada publik, dan dapat melatih untuk menerima usulan dari publik (terbuka). Buah diskusi, melatih oran-orang yang yang biasa diskusi senantiasa berembuk, dan asal-asalan menentukan keputusan tanpa pertimbangan dari segala aspek. Sehingga jalan fikirannya lebih panjang, plus tidak egois.
Diskusi dengan bantah-bantahan, juga harus menjaga dari sikap menjegal, marah, memulas, berbelit-belit dan mereka-reka. Pasalnya, diskusi yang disertai hati yang tidak lurus demikian, tidak akan mempu menerobos makna dari diskusi sendiri. Yakni untuk memperoleh kebenaran umum, dan tidak akan dapat memperoleh manfaat dan faedah diskusi. Padahal diskusi satu jam yang disertai angan-angan, menurut Az Zarnuji lebih baik daripada mengulang-ulang pelajaran (ilmu) satu bulan. []
“Malu bertanya sesat di jalan”. Petuah ini memang cocok, untuk menggambarkan betapa pentingnya nilai atau budaya bertanya. Suatu kebiasaan yang harus senantiasa dipegang oleh para pelajar, difahami dan dipraktekkan, demi mendapat suatu kemapanan keilmuan. Sehingga sebagai subyek, tidak hanya mengamini apa yang disampaikan oleh guru atau fasilitator, sembari datang, duduk, diam dan ngewe. Tapi bisa menyaring segala informasi yang disampaikan oleh mereka.
Kendati demikian, kebudayaan bertanya, lebih-lebih Discus, masih begitu kolotnya diterapkan di lingkungan pendidikan. Rancang tanya jawab, dengan mempertemukan opini, dengan membeberkan data dan relita yang terjadi, masih menjadi beban, yang terasa berat dipikul. Padahal, manfaat yang diperoleh dari diskusi, sangat besar, bagi pengendapan knowladge dan infomasi, dalam serabut sensorik manusia. Sehingga informasi yang ada, akan dengan mudah tersimpan, sekaligus mudah diputar kembali, bila dibutuhkan.
Merekonstruksi diskusi, lebih pakemnya kita berjalan-jalan bersama Syekh Az Zarnuji, tokoh sekaligus pengarang ilmu Ta’limul Muta’allim, yang menjadi pedoman belajar bagi para pelajar.
Menempuh pendidikan, diwajibkan bagi setiap insani. Yakni memasukkan informasi dari dunia. Sistem penyimpanan informasi pun tidak semudah kita menyimpan uang di bank, yang dapat disimpan dan diambil setiap saat. Ada kalanya suatu informasi yang telah mantap difahami dan disimpan pada durasi waktu tertentu, tapi selanjutnya ketika kita hendak membuka kembali informasi itu, kita mengalami kesulitan, sehingga informasi itu hilang, dan kita selangkah mundur. Karena telah kecolongan satu informasi.
Untuk itu, perlu suatu strategi yang sanggup menyimpan, demikian juga sanggup pula merekonstruksi informasi itu, bila dibutuhkan. Menyiasati hal itu Az Zarnuji punya trik khusus, sehingga informasi atau ilmu yang telah masuk, bisa terkunci kuat dalam ingatan, plus kita sanggup membuka kembali. Trik itu yakni “Diskusi”. Ya diskusi sebagai Key (kunci)-nya.
“Almudzakaroti wal munadloroti” atau penalaran dan saling tukar pikiran, merupakan suatu kunci dalam menyimpan informasi. Mengapa..? Karena manfaat dari diskusi atau perdebatan, yang disertai hati, fikiran dan I’tikad baik, jernih dan penuh penalaran, sanggup menelorkan hasil yang lebih kuat daripada faedah mengulang-ulang materi.
Hal itu terjadi, karena kala diskusi dikumandangkan, maka tanpa komando dari manapun, audient harus turut serta menyumbangkan buah fikiran, turut berfikir, mengingat dan merenung, kalau ia memang benar-benar mau merasakan buahnya diskusi. Apa saja itu ?
Pertama, peserta diskusi harus latihan memahami suatu topik. Artinya, dia harus mempunyai kemampuan menyaring apa tema yang sedang diangkat pada saat diskusi dibeberkan. Makanya, peserta tidak boleh njelantur, atau asal ngomong tampa tahu benar permasalahan. Ia harus tahu dulu, baru beropini.
Kedua, sebanyak mungkin mengumpulkan literatur. “Iqro’..”, mutlak harus dibudayakan. Semakin banyak inforamasi yang didapat dari literatur, memahami dan merenungkan, maka semakin kuat pijakan atau pengetahuan dalam memaparkan suatu usulan. Sehingga bahaya-bahaya orang yang tidak waras cara fikirnya (suka menjegal), dapat dihindari. Dan untuk semakin memperkuat kedudukan, maka bumbuh berupa informasi-informasi dari segala sumber, seperti tokoh-tokoh penting, dari infotainmen-infotainmen yang beredar di lingkungan, baik TV ataupun lainnya, juga diperlukan. Alhasil apa yang kita disampaikan, punya alasan dan ruang yang kuat. Makanya Az Zarnuji menyebutkan, diskusi selain dapat mengulang ilmu yang telah ada, juga dapat memperoleh ilmu baru yang belum diketahui. Mengulang berarti, merekonstruksi informasi yang didapat dari berbagai sumber, menambah ilmu yang belum diketahui yakni, mengadu ilmu kita dengan rekan yang lain, sehingga dapat menghasilkan ilmu-ilmu baru, baik dari rekan atau dari diri kita sendiri, manakala sedang terjepit, sehingga spontanitas memunculkan strategi mempertahankan opini.
Ketiga, diskusi juga dapat melatih demokrasi, tidak diktator, melatih keberanian dan kelihaian berbicara atau mengusulkan ide pada publik, dan dapat melatih untuk menerima usulan dari publik (terbuka). Buah diskusi, melatih oran-orang yang yang biasa diskusi senantiasa berembuk, dan asal-asalan menentukan keputusan tanpa pertimbangan dari segala aspek. Sehingga jalan fikirannya lebih panjang, plus tidak egois.
Diskusi dengan bantah-bantahan, juga harus menjaga dari sikap menjegal, marah, memulas, berbelit-belit dan mereka-reka. Pasalnya, diskusi yang disertai hati yang tidak lurus demikian, tidak akan mempu menerobos makna dari diskusi sendiri. Yakni untuk memperoleh kebenaran umum, dan tidak akan dapat memperoleh manfaat dan faedah diskusi. Padahal diskusi satu jam yang disertai angan-angan, menurut Az Zarnuji lebih baik daripada mengulang-ulang pelajaran (ilmu) satu bulan. []
Tuesday, April 28, 2009
PE4NYAKIT HATI
P E N Y A K I T H A T I
Islam menjalaskan bahwa tubuh kita ini, terdiri atas dua unsur jasmani dan unsur rohani, unsur jasmani (jasad) dapat terlihat dan diketahui melalui mata, sedangkan unsur rohani hanya dapat diketahui oleh perasaan. Didalam satu hadist dikatakan bahwa di dalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging, apabila daging ini baik, maka baiklah seluruh tubuh daging tersebut, yaitu hati.
Dari hadis menjalskan kita bahwa hati adalah sebagai unsur rohani yang perlu kita jaga agar tidak merusak seluruh tubuh kita. Ada beberapa penyakit hati yang harus kita hindari antara lain yaitu :
A. SIFAT IRI
Iri artinya tidak sedang orang lain memperoleh nikmat, biasanya sifat iri ini selalu dibarengi dengan sifat dengki, sifat iri dalam kehidupan sehari-hari ini sangat banyak sasarannya antara lain iri terhadap tetangga yang kaya, atau iri terhadap orang lain yang sukses dalam usaha dan sebagainya. Sifat iri ini sangat dicela dalam ajaran islam. Karena sifat iri sangat mengganggu ketentraman jiwa dan bahkan dapat menimbulkan pertengkaran satu dengan yang lain.
Oleh karena banyaknya akibat tidak baik yang ditimbulkan sifat iri ini, maka para siswa harus menghindari sifat iri, dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, keluarga dan masyarakat.
B. DENGKI
Dengki adalah salah satu sifat yang tidak terpuji, dan harus dihindari oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Arti dengki adalah perusaha menghilngkan nikmat yang telah diperoleh seseorang.
Artinya :
“Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat dahulu, (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengan mencukur rambut”. (H.R. Ahmad an Tarmizi)
Dari hadis di atas dapat diambil pemahaman bahwa hancurnya suatu agama sejak dahulu adalah disebabkan oleh timbulnya sifat benci dan dengki di antara para pemeluknya.
Apabila sifat dengki berkembang di sekolah maka akan menimbulkan kekacauan, kebohongan dan fitnah. Maka harus dihindari sifat dengki dan sombong, baik sombong karena orang tuanya kaya, mempunyai jabatan yang tinggi, dank arena merasa pintar sendiri.
C. HASUD
Dalam bahasa Arab hasud berarti dengki, tapi dalam kegiatannya hasud itu adalah tindak lanjut dari sifat dengki, sebagaimana dalam pelajaran yang lalu bahwa dengki itu adalah berusaha menghilangkan nikmat yang diperoleh seseorang. Menghilangkan nikmat tersebut bermacam-macam cara antara lain menghasud.
Dalam salah satu hadis Rosulullah SAW, bersabda :
Artinya :
“Jauhilah dirimu dari sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan, seperti api memakan kayu baker”. (H.R. Abu Daud)
D. FITNAH
Sifat yang lain yang dimurkakan oleh Allah SWT adalah sifat suka memfitnah. Memfitnah adalah sifat tercela yaitu haram hukumnya. Fitnah artinya menyiarkan (aib) seseorang kepada orang lain, padahal orang itu tidak pernah melakukannya. Fitnah ini adalah merupakan tindak lanjut dari sifat dengki.
Firman Allah SWT,
Artinya :
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al Baqoroh 193).
Dari ayat diatas dapat diambil pelajaran bahwa fitnah adalah sangat keji, sehingga pada ayat lain dikatakan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Dalam salah satu hadis Rosulullah SAW, bersabda :
Artinya :
“tidak akan masuk surga orang yang suka menyebarkan fitnah”. (H. R. Bukhari)
Dari ayat dan hadis tersebut memberi pelajaran kepada kita bahwa memfitnah dan mengungkapkan aib orang adalah tercela dalam ajaran islam.
E. BURUK SANGKA
Agama islam adalah agama yang mensucikan manusia dari penyakir lahir dan batin, sedangkan buruk sangka adalah salah satu penyakit batin (hati) hukumnya adalah haram, dan dapat merusak pergaulan dalam bermasyarakat. Di dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 12 Allah SWT, berfirman yang artinya ialah :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kami menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”. (QS Al Hujurat 12)
Ayat di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa Allah melarang orang-orang yang beriman agar menauhkan diri dari prasangka buruk terhadap orang mukmin, apabila mendengar pembicaraan seorang mukmin, maka harus ditanggapi dengan baik dan jangan salah paham apalagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan prasangka buruk.
Di dalam salah satu hadist Rosulullah SAW, bersabda :
Artinya :
“Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu paling dustanya perkataan”. (HR Muslim).
Dari hadis ini memberi pelajaran kepada kita semua bahwa banyak terjadi prasangka dalam bermasyarakat karena sikap buruk sangka, kadang-kadang masalah kecil bisa menjadi besar, sehingga timbul rasa dengki dan dendamnya yang berkepanjangan oleh sebab itu setiap orang yang ingin mendapat ridho Allah hendalkah selalu berprasangka baik.
F. KHIANAT
Sifat khianat adalah salah satu sifat tercela dalam ajaran Islam, sifat itu sangat dibenci dan bahkan diharamkan. Khianat artinya menyia-nyiakan kepercayaan orang, contohnya antara lain orang yang menyerahkan sesuatu yang perlu di jaga.
Dalam Al-Qur’an Surat Al Anfal ayat 27 dan 28 Allah berfirman :
Artinya :
Artinya :
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rosul (Muhammad( dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rosul (Muhammad( dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar”.
Ayat tersebut memberi pelajaran bahwa Allah menyerukan kaum muslim agar tidak mengkhianati Allah dan RasulNya dengan cara mengabaikan kewajiban dan melakukan laranganNya.
Di dalam Al-Qur’an dan hadis secara garis besar telah ada aturan yang harus di taati oleh masyarakat. Dan disekolah ada aturan yang mengatur kepentingan sekolah dan siswa tidak boleh dikhianati. Apabila dikhianati maka akan hilanglah kepercayaan dan merajalela kejahatan. Khianat adalah sifat orang yang munafik, maka para siswa harus menjauhi sifat khianat agar tidak terjangkit penyakit nifak yang akan mengikis habis iman.
Dalam salah satu hadis Rosulollah SAW, bersabda :
Artinya :
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempertaruhkan kepada engkau dan janganlah engkau mengkhianati orang yang mengkhianati”. (HR. Ashabus Sunan)
Dari hadis di atas memberi gambaran kepada kita betapa pentingnya menunaikan amanat, baik amanah dari Allah dan Rosull-Nya maupun amanah di antara sesamanya.
Oleh sebab itu seorang siswa harus menghindari sifat khianat, agar ketentraman di sekolah dapat terlaksana dengan baik.
Islam menjalaskan bahwa tubuh kita ini, terdiri atas dua unsur jasmani dan unsur rohani, unsur jasmani (jasad) dapat terlihat dan diketahui melalui mata, sedangkan unsur rohani hanya dapat diketahui oleh perasaan. Didalam satu hadist dikatakan bahwa di dalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging, apabila daging ini baik, maka baiklah seluruh tubuh daging tersebut, yaitu hati.
Dari hadis menjalskan kita bahwa hati adalah sebagai unsur rohani yang perlu kita jaga agar tidak merusak seluruh tubuh kita. Ada beberapa penyakit hati yang harus kita hindari antara lain yaitu :
A. SIFAT IRI
Iri artinya tidak sedang orang lain memperoleh nikmat, biasanya sifat iri ini selalu dibarengi dengan sifat dengki, sifat iri dalam kehidupan sehari-hari ini sangat banyak sasarannya antara lain iri terhadap tetangga yang kaya, atau iri terhadap orang lain yang sukses dalam usaha dan sebagainya. Sifat iri ini sangat dicela dalam ajaran islam. Karena sifat iri sangat mengganggu ketentraman jiwa dan bahkan dapat menimbulkan pertengkaran satu dengan yang lain.
Oleh karena banyaknya akibat tidak baik yang ditimbulkan sifat iri ini, maka para siswa harus menghindari sifat iri, dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, keluarga dan masyarakat.
B. DENGKI
Dengki adalah salah satu sifat yang tidak terpuji, dan harus dihindari oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Arti dengki adalah perusaha menghilngkan nikmat yang telah diperoleh seseorang.
Artinya :
“Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat dahulu, (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengan mencukur rambut”. (H.R. Ahmad an Tarmizi)
Dari hadis di atas dapat diambil pemahaman bahwa hancurnya suatu agama sejak dahulu adalah disebabkan oleh timbulnya sifat benci dan dengki di antara para pemeluknya.
Apabila sifat dengki berkembang di sekolah maka akan menimbulkan kekacauan, kebohongan dan fitnah. Maka harus dihindari sifat dengki dan sombong, baik sombong karena orang tuanya kaya, mempunyai jabatan yang tinggi, dank arena merasa pintar sendiri.
C. HASUD
Dalam bahasa Arab hasud berarti dengki, tapi dalam kegiatannya hasud itu adalah tindak lanjut dari sifat dengki, sebagaimana dalam pelajaran yang lalu bahwa dengki itu adalah berusaha menghilangkan nikmat yang diperoleh seseorang. Menghilangkan nikmat tersebut bermacam-macam cara antara lain menghasud.
Dalam salah satu hadis Rosulullah SAW, bersabda :
Artinya :
“Jauhilah dirimu dari sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan, seperti api memakan kayu baker”. (H.R. Abu Daud)
D. FITNAH
Sifat yang lain yang dimurkakan oleh Allah SWT adalah sifat suka memfitnah. Memfitnah adalah sifat tercela yaitu haram hukumnya. Fitnah artinya menyiarkan (aib) seseorang kepada orang lain, padahal orang itu tidak pernah melakukannya. Fitnah ini adalah merupakan tindak lanjut dari sifat dengki.
Firman Allah SWT,
Artinya :
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al Baqoroh 193).
Dari ayat diatas dapat diambil pelajaran bahwa fitnah adalah sangat keji, sehingga pada ayat lain dikatakan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Dalam salah satu hadis Rosulullah SAW, bersabda :
Artinya :
“tidak akan masuk surga orang yang suka menyebarkan fitnah”. (H. R. Bukhari)
Dari ayat dan hadis tersebut memberi pelajaran kepada kita bahwa memfitnah dan mengungkapkan aib orang adalah tercela dalam ajaran islam.
E. BURUK SANGKA
Agama islam adalah agama yang mensucikan manusia dari penyakir lahir dan batin, sedangkan buruk sangka adalah salah satu penyakit batin (hati) hukumnya adalah haram, dan dapat merusak pergaulan dalam bermasyarakat. Di dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 12 Allah SWT, berfirman yang artinya ialah :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kami menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”. (QS Al Hujurat 12)
Ayat di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa Allah melarang orang-orang yang beriman agar menauhkan diri dari prasangka buruk terhadap orang mukmin, apabila mendengar pembicaraan seorang mukmin, maka harus ditanggapi dengan baik dan jangan salah paham apalagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan prasangka buruk.
Di dalam salah satu hadist Rosulullah SAW, bersabda :
Artinya :
“Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu paling dustanya perkataan”. (HR Muslim).
Dari hadis ini memberi pelajaran kepada kita semua bahwa banyak terjadi prasangka dalam bermasyarakat karena sikap buruk sangka, kadang-kadang masalah kecil bisa menjadi besar, sehingga timbul rasa dengki dan dendamnya yang berkepanjangan oleh sebab itu setiap orang yang ingin mendapat ridho Allah hendalkah selalu berprasangka baik.
F. KHIANAT
Sifat khianat adalah salah satu sifat tercela dalam ajaran Islam, sifat itu sangat dibenci dan bahkan diharamkan. Khianat artinya menyia-nyiakan kepercayaan orang, contohnya antara lain orang yang menyerahkan sesuatu yang perlu di jaga.
Dalam Al-Qur’an Surat Al Anfal ayat 27 dan 28 Allah berfirman :
Artinya :
Artinya :
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rosul (Muhammad( dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rosul (Muhammad( dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar”.
Ayat tersebut memberi pelajaran bahwa Allah menyerukan kaum muslim agar tidak mengkhianati Allah dan RasulNya dengan cara mengabaikan kewajiban dan melakukan laranganNya.
Di dalam Al-Qur’an dan hadis secara garis besar telah ada aturan yang harus di taati oleh masyarakat. Dan disekolah ada aturan yang mengatur kepentingan sekolah dan siswa tidak boleh dikhianati. Apabila dikhianati maka akan hilanglah kepercayaan dan merajalela kejahatan. Khianat adalah sifat orang yang munafik, maka para siswa harus menjauhi sifat khianat agar tidak terjangkit penyakit nifak yang akan mengikis habis iman.
Dalam salah satu hadis Rosulollah SAW, bersabda :
Artinya :
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempertaruhkan kepada engkau dan janganlah engkau mengkhianati orang yang mengkhianati”. (HR. Ashabus Sunan)
Dari hadis di atas memberi gambaran kepada kita betapa pentingnya menunaikan amanat, baik amanah dari Allah dan Rosull-Nya maupun amanah di antara sesamanya.
Oleh sebab itu seorang siswa harus menghindari sifat khianat, agar ketentraman di sekolah dapat terlaksana dengan baik.
Friday, February 13, 2009
Valentine
ADA APA DENGAN VALENTINE
Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.
Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya
VALENTINE DIMATA ISLAM
Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.
Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)
Diambil Dari Berbagai sumber
Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.
Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya
VALENTINE DIMATA ISLAM
Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.
Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)
Diambil Dari Berbagai sumber
Subscribe to:
Posts (Atom)